Tag

, , , ,

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-Baqarah, 2:144)

kiblat

Arah kiblat dari Indonesia (google earth)

Ada kemungkinan terjadi pergeseran arah kiblat akibat gempa bumi besar yang bertubi-tubi melanda Indonesia. Majelis Ulama Indonesia (MUI) minta para ahli untuk melakukan penelitian. Secara lahiriyah harus ada kesepakatan antara MUI yang mewakili umat Islam dengan para ahli ilmu geografi, apakah ada pergeseran arah kiblat akibat gempa bumi itu. Karena kesepakatan tersebut sifatnya wajib dalam syariah Islam, yang menyangkut sistem ibadah.

“MUI berbicara hukum syariah, karena menyangkut sistem ibadah. Seperti ditegaskan ayat ke-144 surah al-Baqarah. Tidak sah shalat seseorang yang dengan sengaja dan sadar tidak menghadap kiblat, kecuali dalam yang sudah sangat tidak memungkinkan,” kata KH Abdushomad Buchori, Ketua MUI Jatim, Kamis (22/10).

Kekhawatiran bergesernya kiblat akibat gempa adalah bentuk kehatia-hatian, karena menyangkut syarat syahnya sholat. Apalagi Indonesia salah satu negara yang berdiri di atas lempengan bumi yang rentan terjadi gempa berkekuatan besar.

“Jangan sampai karena tidak ada upaya meraba setiap kejadian alam, tahu-tahu kiblat kita sudah tidak menghadap Ka’bah,” jelasnya.

Dia berharap ada ahli dan pakar yang berani menyatakan kemungkinan kecil terjadi pergeseran arah kiblat karena gempa agar melakukan penelitian, sehingga anjuran syariah bisa dilaksanakan. Dengan harapan terjadi kesepakatan antar umat Islam yang diwakili MUI dengan para pakar yang membidanginya. Karena hal tersebut adalah anjuran syariat.

“Jangan hanya kemungkinan, karena sholat menghadap Kiblat wajib. Sebab sekecil apa pun pergeseran sudah merubah sistem sholat. Sedangkan kesepakatan itu adalah wajib jika keadaan memungkinkan. Apalagi gempa secara bertubi-tubi terjadi dengan kekuatan besar,” tegasnya.

Sertifikat Arah Kiblat
Rupanya gempa bumi dahsyat yang memporakporandakan sebagian wilayah Indonesia, mengakibatkan pergeseran arah kiblat di Jawa Tengah. Menurut Kanwil Departemen Agama (Depag) Jateng, dari sejumlah pakar geografi, arah kiblat masjid di wilayahnya telah mengalami pergeseran karena adanya pergeseran lempengan bumi, akibat gempa yang melanda beberapa waktu yang lalu.

“Dari hasil pendapat ahli geografi, pergeseran lempeng bumi berdampak terhadap berubahnya arah kiblat masjid,” kata Mashyudi, Kepala Kanwil Depag Provinsi Jawa Tengah. Penetapan arah kiblat akan disesuaikan dengan perhitungan ilmu falak dan kompas.

Menurut KH Abdusshomad, jika kiblat masjid telah bergeser harus segera dilakukan perubahan. Tetapi harus dilaksanakan oleh orang yang memahami ilmu falaq dan ilmu fiqih. MUI Jatim juga meminta Depag RI menertibkan sertifikat arah kiblat masjid-masjid di seluruh provinsi, untuk ditentukan arahnya sesuai dengan ilmu falaq.

Kompas Penunjuk Arah Kiblat

Alat Untuk Melihat Arah Kiblat

“Apa yang akan dilakukan oleh Depag Jateng itu tidak ada masalah (menentukan arah kiblat yang telah bergeser), asalkan dilakukan dengan ilmu falaq. Tentunya dilakukan oleh orang yang menguasai ilmu falaq dan fiqih,” kata Abdusshomad. Yang penting, pelurusan arah kiblat tidak dilakukan kontroversial, karena umat Muslim saat ini cenderung sensitif.

MUI Jatim akan melihat perkembangan hasil dari sertifikasi tersebut untuk menentukan kebijakan arah kiblat masjid di Jatim. Jika memang terjadi pergeseran, seyogyanya Jatim juga harus melakukan hal yang sama, meski guncangan gempa lebih dirasakan di Jateng.

Diungkapkan Abdushomad, pada zaman Walisongo, arah kiblat memang ke barat, namun agak menyerong ke arah kanan. Kiblat merupakan isyarat umat Muslim membangun satu misi dan visi bersatu menegakkan ajaran agama Islam sebagai penentu arah sholat menghadap ka’bah.

“Kiblat adalah arah yang menentukan sah dan tidaknya umat Muslim melakukan shalat. Tetapi jika isu ini ditunggangi orang-orang yang anti-Islam maka persoalannya akan bergeser menjadi perpecahan yang tidak kunjung selesai,” tegasnya

MUI Jatim dan Kanwil Depag Jateng akan melakukan sertifikasi arah kiblat, terutama untuk masjid-masid tua hampir di tiap kota. Setidaknya masjid tua terletak di setiap alun-alun kota seperti Masjid Agung Demak, Masjid Kauman Semarang, dan lain-lain. Jumlah masjid di Jateng saat ini mencapai 39.478 unit. Sedangkan jumlah umat Islam di Jateng mencapai 32 juta orang. Pelurusan tidak akan dilakukan dengan membongkar bangunannya, hanya barisan shaf-nya yang akan digeser.

Agar terjadi koordinasi dan pelaksanaan di lapangan dengan baik, seluruh kantor wilayah di tiap kabupaten/kota se-Jatim utamanya Depag RI harus segera menginventarisasi atau melakukan penelitian arah kiblat masjid dan mushala. Jika arah kiblat benar bergeser maka perlu segera diluruskan kembali.

Sumber : Republika

Artikel Menarik Lainnya :

About these ads