Tag

, , , , , , , ,

Zaki2009Apaan sih mahasiswa kupu-kupu? Maksudnya, mahasiswa kuliah-pulang alias mahasiswa yang enggan berorganisasi di kampusnya dan langsung pulang usai kuliah. Mereka berorientasi mengejar Indeks Prestasi (IP) setinggi-tingginya dengan harapan gampang dapat kerja setelah lulus karena IP yang cum laude.

Padahal, kini banyak perusahaan yang tidak lagi menjadikan IP tinggi sebagai satu-satunya syarat untuk merekrut karyawannya. Mulai banyak perusahaan yang lebih melihat curriculum vitae calon karyawannya terutama pengalaman organisasinya. Potensi intelektualitas –yang dilihat dari IP- memang penting dalam meniti karir professional, namun kemampuan berkomunikasi, kerja sama tim (teamwork) dan kecerdasan emosional-spiritual kini juga menjadi syarat utama bagi seorang karyawan untuk sukses memberikan kontribusi positif bagi perusahaannya.

Banyak sarjana fresh graduate yang IP-nya cum laude namun kinerja profesionalnya biasa-biasa saja sehingga karirnya stagnan. Mengapa? Karena sarjana tersebut semasa kuliahnya menjadi mahasiswa kupu-kupu yang ogah berorganisasi dan bersosialisasi, sehingga tidak mempunyai kemampuan berkomunikasi yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Belum lagi, banyak profesi tertentu seperti marketing yang tidak hanya membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang baik, tapi juga kemampuan lobbying dan negosiasi. It’s clear, kemampuan komunikasi, lobbying dan negosiasi tidak akan kita dapatkan di bangku kuliah, tapi akan kita temukan melalui aktivitas berorganisasi.

Dengan berorganisasi, bakat kepemimpinan seseorang akan muncul dan terasah. Sikap insiatif yang melekat pada ciri seorang pemimpin akan terasah melalui aktivitas organisasi. Sikap inisiatif juga sangat dibutuhkan sarjana fresh graduate yang tengah merintis karir profesionalnya. Setiap perusahaan pasti akan memberikan apresiasi positif kepada setiap karyawannya yang selalu mempunyai inisiatif segar untuk memajukan perusahaan.

Sukses Kuliah, Sukses Organisasi, Sukses Karir
Mengapa banyak mahasiswa yang sudah puas dengan hanya IP tinggi? Tidak inginkah mereka sukses juga menjadi pemimpin di sebuah organisasi? Atau sukses berwirausaha dan berkarir? Mungkin kecenderungan mahasiswa mengejar IP tinggi dengan harapan gampang dapat kerja adalah mentalitas peninggalan kolonialisme Belanda yang secara sistematis telah mendesain Hindia Belanda sebagai negara pegawai (Beambtenstaat).

Pada masa itu, para orang tua dari kalangan priyayi (bangsawan) bercita-cita agar anaknya kuliah di OSVIA (kini IPDN) yang mencetak calon-calon pegawai negeri. Pemerintah kolonial Belanda pun diuntungkan karena mendapatkan suplai pegawai-pegawai bumiputera yang loyal mengabdi kepada penjajah. Tentu saja, para mahasiswa OSVIA tersebut tidak diizinkan berorganisasi sebagaimana rekannya-rekannya di THS (kini ITB) dan STOVIA (kini FKUI).

Ketika kini Indonesia sudah bebas dari belenggu penjajahan Belanda dan tekanan diktator Orde Baru, kebebasan berorganisasi pun tidak dikekang seperti dulu. Maka, sudah saatnya para mahasiswa tidak lagi menjadi mahasiswa kupu-kupu yang habis kuliah langsung pulang, tapi aktif mengisi waktu luangnya dengan aktivitas yang bermanfaat bagi pengembangan dirinya, baik berorganisasi, berwirausaha dan lain-lain. (alf-02/10/2009)

Sumber : Gusmus.net

Artikel menarik lainnya :