Tag

, , , , ,

Sandow Birk

Sandow Birk

Dari berselancar di dunia maya, Sandow Birk mengenal Islam. Seniman California itu berkelana hingga ke Indonesia, India, Maroko, sampai ke tanah-tanah gersang gurun pasir. Ketertarikan dan keingintahuan Sandow berpusat pada agama yang dipraktekkan di sana. Ia mengunjungi masjid-masjid, hingga akhirnya mendapat sebuah terjemah Al Qur’an berbahasa Inggris tulisan tangan, dari tahun 1861.

Setelah terjadi serangan WTC 11 September 2001, Sandow baru menyadari bahwa Amerika hanya tahu sedikit tentang ajaran Al Qur’an. Ia pun memulai proyek pribadi, melukis seluruh 114 surat, namun dalam cara yang tak seorang pun pernah lakukan. Pelukis berusia 46 tahun itu, mengimajinasikan ulang pengungkapan dari Tuhan kepada Rasul Muhammad, dalam konteks kontemporer warga Amerika. Sandow mulai menyusun surat-surat dan menghubungkan setiapnya ke hal-hal yang ia tahu paling baik.

Kini ia telah menyelesaikan 60 surat. “Al Qur’an Amerika” kini tengah dipajang di dua galeri California. “Tujuannya sederhana, untuk membuat teks-teks di dalamnya lebih akrab,” kata Sandow mengutarakan niatnya.

Jadilah, pembuka Al Qur’an, surat Al Fatihah dengan tujuh ayat yang berisi meminta petunjuk Allah, kerap ditemukan di rumah-rumah Muslim, dibingkai dengan bentuk-bentuk timur tengah yang bila didekati dan dicermati seksama, menampilkan benda-benda esensial kehidupan rumah tangga Amerika — garpu, gelas, tangga, pengocok telur, sikat gigi.

Sementara untuk mengilustrasikan sebuah Surat yang berbicara secara metafora tentang unta-unta bertenaga besar yang berlari, Sandow menggambar balapan mobil barang. “Lagi pula, bagaimana warga Amerika berhubungan dengan unta?” kilahnya.

QS 57 versi Sandow

QS 57 versi Sandow Birk

Warna-warna merah, putih dan biru dari konvensi politik menjadi tema ayat-ayat yang menggambarkan kemunafikan. Pemandangan lain terpusat di kantor-kantor, wilayah suburban dan rumah makan sushi. Mereka menggambarkan pemakaman, pernikahan dan liburan.

Lalu masuk ke surat ke-44, Ad Dukhaan (kabut) pada ayat ke-10 dan 11 : “Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.”

Sandow pun membuat lukisan berdasar intepretasinya: sebuah altar berlatar pemandangan sebuah jalan Manhattan, asap membumbung dari World Trade Center (WTC). “Saya tahu, saya akan membawa tragedi WTC masuk. Kalau tidak, proyek ini tidak akan terasa sakral,” aku Sandow.
“Itu adalah hal penting dalam pemahaman Islam untuk Amerika,” imbuhnya.

Sandow mengaku ia bukanlah orang yang sangat taat agama. Hanya saja, ia memiliki reputasi besar menangani proyek-proyek epik, termasuk karya yang mengeksplorasi perang Irak dan Divine Comedy karya Dante. Lebih jauh tentang sosok Sandow Birk, lihat di Wikipedia.

Berpotensi Dihujat
Pemilik galeri di San Fransico, Catharine Clark menyadari, panel lukisan Surat ke-44 itu memiliki potensi besar untuk dihujat. Ia mengaku khawatir terhadap reaksi lukisan tersebut. Namun ia menilai tidak ada kelicikan tersembunyi dalam niat Sandow. “Itu lukisan yang menyulitkan. Namun ia tak bermaksud membuat kesal siapa pun,” jelasnya.

Catharine juga menuturkan, beberapa blog Kristen menuding seniman terlalu lunak terhadap Islam. Sementara reaksi Muslim terhadap karya terakhirnya beragam.

Setengah lukisan “Al Qur’an Amerika” dipajang di galeri milik Catharin. Sementara 30 surat lainnya dipasang di galeri Koplin del Rio, di Culver City. Namun sejumlah pengamat berkomentar tidak dalam nada baik.

Usman Madha, juru bicara dari Masjid King Fahd, masjid terbesar di Los Angeles County mengatakan ia melihat hasil karya Sandow tanpa sengaja. Saat menyaksikan, ia mengaku bahkan tak bisa membaca judulnya. “Al Qur’an Amerika sangat selip,” ujar Usman.

“Tidak ada hal semacam Al Qur’an Amerika, seperti tak mungkin ada Al Qur’an Eropa atau Al Qur’an Asia atau Al Qur’an Timur Tengah. Hanya ada satu, Al Qur’an,”  tegasnya. “Saya sedih. Karya itu memberi impresi yang salah,”  tegasnya.

Usman bukan tak mendengar reputasi Sandow. Ia pun memahami niat baik sang seniman dan menghormati kebebasan berekspresi. Namun ia tidak dapat menerima gagasan Al Qur’an berilustrasi. Hal itu menentang dasar agamanya. “Dalam Islam, kami tidak mengenal gambar. Itu memicu kultus dan itu yang kami hindari,” ujar Usman.

Akan Dilanjutkan Sampai Selesai
Bagaimanapun, Sandow tidak akan menghentikan proyek Al Qur’an pribadinya. Ia berharap menyelesaikan seluruh 114 surat pada 2011 nanti, dengan menyalin setiap surat dari Al Qur’an terjemahan berbahasa Inggris (1861), dengan tangan dan melukis dengan metoda gouche. Yakni teknik menggambar dengan menggunakan warna transparan di atas kertas basah dan ditebali dengan material mirip lem. Medianya kertas berukuran 16 x 24 inchi (40 x 60 cm).

Ia mengatakan, panel-panel lukisannya bukanlah ilustrasi harafiah, melainkan meditasi pribadinya yang kental terhadap pesan-pesan Al Qur’an. Itulah cara Sandow yang membuat warga Amerika mengakui, bahwa teks-teks Islam tidak lebih unik, puitis, keras atau indah dibanding teks-teks agama lain.

Sandow menekankan, Al Qur’an pun mengabarkan kisah seperti dalam Injil. Mungkin itu pesan yang diharapkan orang dari ulama, pecinta damai, bahkan teologian, namun tidak perlu dari seorang pria peselancar dunia maya dari California. (cnn/itz)

Sumber : Republika

Lukisan QS 92 (Al Lail) dan QS 93 (Adh Dhuhaa) karya Sandow Birk

Lukisan QS 92 (Al Lail) dan QS 93 (Adh Dhuhaa) karya Sandow Birk

Artikel Menarik Lainnya :

Terima kasih bila Anda mau memberikan komentar di blog ini. Salam.