Tag

, , ,

hasyim12

DR KH Hasyim Muzadi

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyikapi banyaknya liberalisasi pemahaman yang membuat gerakan berujung ekstrem. Adanya berbagai gerakan liberal tersebut perlu diwaspadai. Sebab dikhawatirkan, ke depan dapat mengganggu kestabilan negara.

“Gerakan liberalisme dan ekstremisme di Indonesia perlu disikapi, oleh karena itu kami akan membahasnya dalam muktamar mendatang,” kata KH Hasyim Muzadi,  Ketua Umum PBNU, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, Minggu lalu.

Menyikapi masalah tersebut, saat ini pihaknya sedang merumuskan konsep tentang antisipasi gerakan liberalisme serta ekstremisme yang masih dibahas oleh PWNU Jawa Timur dan Jawa Tengah, sebagai bahan dalam Muktamar ke-32 pada Januari 2010 di Makassar.

Menolak Pandangan JIL
Hingga saat ini NU tetap menolak pandangan maupun ajaran Jaringan Islam Liberal (JIL). Secara institusi NU tidak sepakat dengan ajaran JIL yang diajarkan oleh penggerak JIL, Ulil Abshar Abdalla.

“Terdapat tiga poin ajaran Ulil yang tidak sesuai dengan konteks ideologi NU. Ketiga ajaran tersebut antara lain, (1) Pernyataan bahwa semua agama itu benar. (2) Desakralisasi Al Qur’an. (3) Deuniversalisasi Al Qur’an. Kami sangat bertolak belakang dengan ajaran JIL, karena tidak sesuai dengan ajaran Islam,” kata KH Abdullah Syamsul Arifin, juru Bicara Forum Kiai Muda (FKM) Jatim, Minggu lalu.

Sebenarnya anggota NU maupun FKM Jatim merasa resah dengan adanya suara yang menghubung-hubungkan NU dengan JIL. Oleh karena itu kemarin NU meminta Ulil untuk mengklarifikasi tiga poin ajaran JIL yang tidak sesuai dengan ajaran NU tersebut.

“Yang jelas, NU tidak memiliki kaitan apapun dengan JIL. Ajaran yang dianut pun jauh berbeda. Sikap tegas NU terhadap JIL sudah terlihat nyata saat diadakannya Muktamar NU 2004 di Boyolali dan Munas NU 2006. Kami menganggap ajaran JIL telah menyimpang dari Ahlul Sunnah Wal Jamaah,” tegas Ketua DPC NU Jember itu.

Menurut ideologi NU, agama yang benar di muka bumi hanyalah Islam. Selain itu, agama Islam juga merupakan agama yang menjamin keselamatan dunia dan akhirat bagi para pemeluknya. Hal ini jauh berbeda dengan ajaran JIL yang menganggap semua agama itu benar dan menyelamatkan.

“Namun meskipun NU memiliki ideologi Islam merupakan satu-satunya agama yang benar, bukan berarti kami tidak memiliki toleransi terhadap agama lain. Kami menghormati para pemeluk agama lain, sesuai dengan kepercayaan mereka,” katanya.

Ajaran yang disampaikan oleh Ulil merupakan wacana kosong belaka. Sebab saat ditanyai mengenai tiga poin ajarannya tersebut, Ulil tidak bisa menjelaskan dalil-dalil yang dipakainya dengan baik dan lengkap. “Dia hanya mengutip dalil itu sepotong-sepotong untuk mendukung pemikirannya saja. Ada dalil yang dikutip tidak lengkap,” jelasnya.

Mengenai adanya kabar bahwa terdapat anggota NU yang juga mengikuti JIL, Abdullah mengatakan, secara ideologi, jika ada anggota NU yang masuk JIL berarti dia sudah keluar dari NU. Sebab ketika anggota NU masuk JIL, berarti dia sudah tidak seideologi dengan NU lagi. “Namun hingga saat ini belum ada aturan administrasi NU yang menyatakan bahwa anggota NU yang masuk JIL harus dikeluarkan dari NU,” jelasnya.

NU juga tidak sepakat dengan adanya liberalisasi Islam. Sebab pemikiran untuk meliberalkan Islam itu tidak sesuai dengan ideologi NU.  “Dan yang lebih penting, jika orang sudah berpikir meliberalkan Islam, secara Hukum Fiqih dia sudah keluar dari Islam,” pungkasnya.

Proteksi Akidah
Berbagai gerakan yang liberal dan ekstrem tersebut perlu diwaspadai. Sehingga diperlukan upaya untuk proteksi, terutama segi akidahnya. “Saat ini, diperlukan upaya proteksi dan perumusan kaderisasi yang tepat, dengan melakukan doktrinasi bukan hanya orientasi saja,” kata Kiai Mutawakil Alallah, Ketua PWNU PWNU Jatim.

Dampak yang disebabkan pemahaman yang liberal tersebut sangat hebat, di antaranya dapat merusak moral maupun akidah umat. Bahkan, dampak yang perlu dihindari aliran tersebut dapat merusak konstitusi. “Jika itu dibiarkan, dampaknya juga dapat merusak tatanan konstitusi yang dapat mengancam NKRI,” jelas pengasuh Ponpes Zainul Hasan, Probolinggo itu.

Ke depan, pihaknya berencana akan intensif untuk melakukan berbagai upaya pencegahan berbagai gerakan tersebut. Selain melakukan upaya doktrinasi, pihaknya juga akan intensif untuk melakukan pencerahan. Di antaranya dengan pembuatan buku, sosialisasi ke media, terjun langsung untuk memberi pencerahan ke cabang-cabang, serta agenda lainnya.

Sumber : PBNU