Tag

, , , , , , , ,

Ada sebuah peristiwa penuh hikmah ketika seorang sahabat baru masuk Islam. “Pada suatu hari datanglah seorang arab badui menghadap Rasulullah SAW. Ia meyatakan diri ingin masuk agama Islam. Namun ia mengajukan syarat ingin masuk Islam, tapi tidak mau meninggalkan kebiasaan (buruk) lamanya seperti berzina, minum-minuman keras dan mencuri.

Rasulullah SAW dengan ramah dan bijaksana memperbolehkan orang tersebut masuk Islam, tapi dengan syarat juga yaitu ia harus “jujur” serta bersedia sholat berjamaah di masjid. Sebuah syarat yang sangat mudah pikirnya, kemudian ia terima dengan gembira.

Sejak itu resmilah ia menjadi seorang muslim. Setiap usai sholat berjamaah dan pemberian pelajaran tentang Islam si arab badui tersebut selalu ditanya aktivitas kesehariannya. Maka ia pun dengan jujur menjawab bahwa ia masih melakukan kebiasaan lamanya itu. Ia tidak bisa berbohong sebab ia telah berjanji untuk jujur. Singkat riwayat dengan konsisten (istiqomah) mengamalkan “jujur”, seorang arab badui akhirnya berhasil secara alami meninggalkan kebiasaan (buruk) lamanya, sehingga ia sukses menjadi “muslim sejati“. Sebuah syarat masuk agama Islam yang sepertinya sepele tetapi sungguh sangat dahsyat efeknya.

Islam adalah agama sempurna (baca: penyempurna) yang diturunkan sebagai rahmat bagi alam semesta ‘ditranskrip’ dalam Al-Qur’an kepada manusia pilihan (Insan Kamil) Muhammad SAW mulai usia 40 tahun. Seperti kita ketahui bahwa pada usia 40 tahun lah Muhammad memperoleh mandat sebagai Nabi dan Utusan Allah karena sebelumnya beliau berhasil mempertahankan gelar honoris causa “al-Amin” atau manusia paling jujur dari kaum Quraisy.

Gelar kehormatan bidang akhlaqul karimah ini dianugerahkan dengan kesadaran penuh dari semua kalangan pada kurun waktu itu tanpa kecuali. Bayangkan setidaknya selama 40 tahun lebih beliau tanpa cacat mempertahankan gelar itu dengan yudisium “summa cumlaude”. Oleh sebab itu, sangat logis apabila Rasulullah SAW mensyaratkan harus jujur kepada orang badui yang ingin masuk Islam tersebut.

Ketika Muhammad SAW mendapat gelar Nabi dan Rasulullah maka saat itu menandai mulai masuknya ajaran keimanan dan keislaman dalam spirit jujur. Ketika itu beliau hadir pada zaman jahiliyah. Banyak orang menyebutnya zaman kebodohan. Zaman jahiliyah adalah masa yang penuh kesombongan dan kebohongan. Masa yang penuh keserakahan.

Kondisi seperti itu kira-kira sama suasananya dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Bangsa Indonesia saat ini adalah bangsa yang sungguh sangat ironis, kritis dan krisis dalam semua aspek di tengah kekayaan alam yang melimpah ruah. Namun tragisnya bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya pemeluk agama Islam itu menduduki peringkat atas dalam budaya korupsi. Predikat tersebut masih terus bertahan walaupun sudah mengalami reformasi yang melelahkan.

Budaya korupsi sama dengan budaya jahiliyah (baca: budaya pembodohan) seperti budaya tidak adil, budaya penindasan dan budaya mengurangi timbangan (baca: budaya mark up). Istilah korupsi sendiri berasal dari kata “corrupt” atau “corruption” yang artinya merusak (“fasad” dalam bahasa Arab), curang, merubah, memanipulasi, mengurangi, mencuri atau lebih tegasnya “maling”. Jadi kesimpulannya bahwa koruptor itu adalah orang yang membuat kerusakan di muka bumi yang selayaknya disebut penipu atau maling.

Ada baiknya kita belajar dari film fiksi hollywood yang berjudul “Intranskrip” (? mohon maaf kalo tidak persis) yang pernah disiarkan di televisi swasta Indonesia. Film ini bercerita tentang suatu formula untuk merubah sistem kehidupan secara sistematik dan otomatis. Formula tersebut diambil dari kitab Taurat. Ketika formula itu di-“install”-kan maka seluruh aspek kehidupan berubah secara berantai, langsung maupun tidak langsung, baik sadar atau tidak sadar. Penulis terinspirasi dengan film tersebut. Kemudian terpikir kira-kira formula apa yang bisa kita “install”-kan untuk merubah budaya korupsi / jahiliyah di Indonesia saat ini.

Akhirnya penulis membuat hipotesis berdasarkan fakta dan model di atas, baik dalam konteks budaya atau bernegara. Adalah jujur sebagai nilai luhur Islam yang telah dicontohkan Muhammad SAW, bisa dijadikan sebuah formula untuk memutus lingkaran setan dalam pemberantasan korupsi. Sebuah kunci pemecahan yang sederhana tetapi memiliki dampak yang efektif, berantai serta sanggup menjadi solusi permasalahan lain dan seluruh turunan permasalah tersebut. Maka penulis optimis hanya ada satu kata untuk perubahan revolusioner yang alami (sesuai fitrah dan kodrat alam) adalah jujur.

Sampai saat ini penulis belum menurunkan formula tersebut pada tingkatan yang lebih praksis, terutama bagaimana teknisnya meng-“istall”-kan formula tersebut. Namun demikian kita dapat memulainya sekarang juga dari diri sendiri dalam hidup bermasyarakat yaitu budayakan hidup “jujur”. Tradisikan berprilaku jujur. Biasakan berlaku jujur. Sampaikan “Kebenaran” dengan “jujur“. Tegakkan kemuliaan Islam dengan jujur. Selamatkan diri Anda dengan jujur. Maka janji-Nya dalam al-Qur’an surat al-Fath ayat pertama yaitu, “Inna fatahna laka fathan mubiinaa”  [“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,” (QS Al Fath, 48:1)], menjadi sebuah yang niscaya.

Formulasi “jujur” tersebut dapat diujicobakan dalam sistem rekrutmen dan pembinaan bagi para penyelenggara negara. Misal, adanya suatu test kejujuran untuk para calon pejabat dan training kejujuran untuk para pejabat baru. Jujur bukanlah berarti membuka aib sendiri. Rahasia negara / perusahaan / rumahtangga adalah aib yang harus ditutupi dari pihak luar. Transparansi pengelolaan adalah bentuk kejujuran dari dalam. Resiko tidak menjalani kejujuran adalah tumbuhnya budaya jahiliyah (baca: pembodohan dan penindasan).

Formulasi untuk suatu perubahan yang sistematik dan kongkrit menuju baldatun thoyyibatun wa rabbun ghaffur adalah jujur (Islam Code). Mulailah sekarang juga untuk “tidak bebohong” (“jujur”). Hal ini berlaku bagi siapapun untuk berjuang terus mengamalkan “jujur” secara istiqomah, karena berjuang (jihad) tidak mengenal kata menyerah. Semoga kita bisa mengamalkannya.

Formula ini sudah teruji keberhasilannya setidaknya dari dua contoh berikut. Pertama adalah contoh sukses yang berhasil secara monumental yaitu “qurun” Rasulullah SAW pada 14 abad yang lalu. Hasil kongkretnya peradaban jahiliyah berubah menjadi peradaban Islam meliputi tiga benua secara revolusioner dalam waktu relatif sebentar.

Contoh kedua adalah kemajuan masyarakat Jepang. Berdasarkan studi kilat penulis maka dapat disimpulkan bahwa saat ini peringkat pertama teratas bangsa paling “jujur” di dunia adalah bangsa Jepang dengan nilai 90%. Mayoritas penduduknya bukan muslim tetapi apabila seseorang kehilangan dompetnya di tempat umum maka 90% kemungkinannya kembali dalam waktu kurang lebih 15 menit.

Peringkat kedua terbawah bangsa paling “jujur” adalah Indonesia dengan nilai 10% yang notabene 90% penduduknya penganut agama Muhammad SAW, yaitu Islam. Bagaimana bukti dan hasilnya? Kongkrit dan bisa disaksikan oleh mata kepala sendiri.

Maka tidak bisa dinafikan bahwa jujur adalah syarat bagi terwujudnya peradaban gemilang. Jujur adalah sebuah kunci (formula) sekaligus pra-syarat yang tidak bisa ditawar lagi untuk pemberantasan budaya korupsi di Indonesia.

Wa Allahu a’lamu bi al-showaabi.

Oleh: Amin Bunyamin (aktivis KMNU)
Sumber : gusmus.net

Posting Menarik Lainnya ;