Tag

,

Umat Islam diajak untuk mewaspadai pemikiran liberalisme, sekulerisme dan plularisme agama. Berbagai bentuk kemungkaran itu berakar pada materialisme dan berkembang di bawah payung kapitalisme global.

“Gerakan paham masyarakat ini terus merengsek masuk ke dalam ormas-ormas dan lembaga-lembaga Islam, yang mengancam kemurnian ajaran Islam saat ini dan akan datang. Karena itu sangat perlu diwaspadai dan dicegah,” kata Ketua Umum MUI Sumatera Utara, Abdullah Syah, dalam Musda MUI Sumut, Selasa lalu.

Masalah yang sedang dihadapi umat saat ini merupakan tantangan yang amat besar.

“Misalnya maraknya al-munkarat (kejahatan-kejahatan meresahkan). Ini merupakan bentuk nyata penyimpangan dari nilai dan ajaran Islam yang rahmattan lil ‘alamin,” kata Guru besar IAIN Sumut itu.

Berbagai bentuk kemungkaran yang terjadi itu antara lain, kemungkaran dalam bentuk pemikiran, serta dalam bentuk akhlak dan perilaku. Kemungkaran dalam bentuk pemikiran ditandai dengan maraknya pemikiran liberalisme, sekularisme, pluralisme agama.

“Kemungkaran pada tataran akhlak dan perilaku ditandai dengan maraknya korupsi (ghulul), kolusi (ta’awun alal ismi wal udwan), suap (risywah), ribawi, perjudian, miras, narkoba, perzinaan (pornoaksi dan pornografi),” jelasnya.

Semua itu berdasarkan pandangan dunia materialisme, cara berpikir posivesme dengan akhlak hedonisme (mazmumah) dengan semangat liberalisme yang semakin nyata disaksikan masyarakat melalui media cetak dan elektronik,

“Seolah-olah itulah budaya baru yang dikembangkan bangsa dan negara di era demokrasi dan reformasi nasional,” katanya.

Berpijak pada wawasan MUI, bahwa ulama sebagai pewaris Nabi (warosatul anbiya’), senantiasa dituntut bijak dan cermat dalam memahami masalah nyata yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat, berbangsa dan negara. Dengan demikian dapat memberikan solusi dalam berdakwah ‘amar ma’ruf nahi munkar’ yang menyentuh hati dan perilaku nyata umat dan bangsa.

“Sasarannya adalah terwujudnya ‘islah’ (perbaikan) dalam berbagai lapangan kehidupan, menuju tatanan masyarakat yang berkualitas,” pungkasnya. (republika)