Tag

,

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (QS Al-Israa’, 17:9)

Belum pernah terjadi dalam sejarah ada suatu umat yang begitu tertarik memperhatikan kitab samawi (kitab sucinya) sebagaimana halnya perhatian umat Muhammad. Tidak pernah didengar kitab suci mana pun yang mendapat pemeliharaan, penjagaan serta penghormatan dan penghargaan sebagaimana halnya kitab suci Al-Qur’an. Ia adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang abadi, hujjah dan keterangan-keterangannya begitu mantab, dan tersebar ke seluruh dunia.

Tidak aneh kalau Al-Qur’anul Adzim itu mempunyai kedudukan yang sungguh mulia, dan mendapat tempat yang agung di hati sanubari kaum muslimin. Karena kejadian-kejadian yang beriringan dengan turunnya kitab suci ini, membuatnya bersanding pada kedudukan yang paling atas di antara kitab-kitab samawi lainnya. Al-Qur’an membenarkan seluruh wahyu yang disampaikan kepada para Nabi dan Rasul lainnya, baik berupa petunjuk, ishlah (perbaikan), pendidikan, pengajaran, keseluruhan budi pekerti maupun undang-undangnya.

“… maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS Al-Baqoroh, 2:97)

Al-Qur’an telah membangkitkan umat memperbaharui masyarakat dan menyusun generasi yang belum pernah tampil dalam sejarah. Ia menampilkan orang Arab dari kehidupan sebagai penggembala menjadi pemimpin bangsa-bangsa yang dapat menguasai dunia, bahkan sampai ke negeri-negeri yang begitu jauh mengenalnya. Kesemuanya itu berkat Al-Qur’an sebagai mukjizat penutup para Nabi dan Rasul.

Mukjizat para Nabi terdahulu itu berupa mukjizat indrawi, yang sesuai dengan masa dan zaman di masa mereka dibangkitkan. Mukjizat Nabi Musa AS berupa tangan dan tongkat, karena ia diutus pada suatu masa dimana banyak ahli sihir dan merajalelanya sihir.

Demikian pula mukjizat Nabi Isa AS, dimana ia dengan seijin Allah Swt dapat menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit, serta dapat memberitahukan hal-hal yang ghaib. Itu karena dia diutus pada suatu masa, dimana ilmu kedokteran dan pengetahuan begitu subur dan populer, dokter-dokter spesialis bermunculan. Kala itu tampillah Isa ibnu Maryam dengan membawa sesuatu yang mengagumkan, serta menundukkan mereka.

“Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (QS Ali ‘Imran, 3:49)

Mukjizat Muhammad bin Abdillah adalah mukjizat ruhiyah yang bersifat rasional. Allah telah memberikan keistimewaan kepadanya berupa Al-Qur’an sebagai mukjizat rasional yang kekal di sepanjang zaman, agar dapat diperhatikan oleh orang yang mempunyai hati dan pemikiran. Sehingga mereka bisa terkena pantulan sinarnya, dan mempergunakan petunjuknya, di saat kini mau pun nanti.

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat merobah kalimat-kalimatNya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padaNya.” (QS Al-Kahfi, 18:27)

Jika demikian, maka wahyu samawi yang disampaikan Nabi yang dipercaya itu agar menjadi sinar dan rahmat bagi sekalian alam. Ia adalah mukjizat yang langgeng, hujjah yang kekal dan tegak di muka bumi sebagai saksi kebenaran Rasul serta menjadi juru bicara kebesaran dan kelanggengan Islam.

Ada pun mukjizat yang bersifat indrawi telah berlalu bersama kejadian-kejadian alamiah dan sirna dari kenyataan, bersamaan dengan wafatnya para Nabi yang membawanya. Mukjizat itu tidak akan nampak lagi ujudnya kecuali yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Karena itu Al-Qur’an memiliki kelebihan dan sangat menonjol melebihi semua mukjizat.

Karena itu akan jelaslah perbedaan antara mukjizat Nabi Muhammad SAW dengan mukjizat para nabi yang lain. Mukjizat Nabi Muhammad merupakan kesatuan dari ayat-ayat yang sungguh selalu menarik di sepanjang masa, sampai saat ini dan nanti.

Sedangkan mukjizat Rasul yang lain jumlahnya terbatas dan pendek masanya. Akan lenyap dengan tenggelamnya masa, dan hilang dengan wafatnya mereka. Orang yang mencari-carinya tidak akan menemui kecuali hanya sekadar cerita. Tidak benar orang-orang yang menemuinya kecuali dari Al-Qur’an. Itulah nikmat yang diberikan kepada Al-Qur’an yang melebihi seluruh kitab dan seluruh mukjizat para Rasul, dan yang dinilai benar oleh semua agama.

“Dan telah Kami turunkan kepadamu (Muhammad) kitab (Al-Qur’an) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS Al-Maidah, 5:48).

Misi (risalah) Rasulullah SAW adalah lengkap lagi kekal, karena menjadi penutup seluruh risalah. Hikmahnya, yaitu agar mukjizat dan bentuk risalahnya selalu selaras. Para nabi yang terdahulu mengembangkan misinya hanya kepada kaumnya yang terbatas, dan berkesudahan dengan datangnya kerasulan yang berikutnya.

Tidaklah mungkin kalau mukjizat penutup para rasul berupa indrawi yang hanya dilihat oleh sekelompok manusia waktu terjadinya. Dan kemudian setelah rasul itu wafat masalah indrawi tersebut lenyap yang tidak nampak oleh seorangpun. Karena alat indra tidaklah sesuai lagi dengan jenis risalah ini, dan tidak sesuai pula dengan kelanggengannya. Maka dengan demikian Al-Qur’an itulah yang menjadi mukjizat untuk seluruh manusia. Dan karena itu pula datanglah dari bentuk lain, bukan jenis mukjizat yang terdahulu.

Al-Qur’an datang ke dunia setelah kemampuan manusia lengkap dan pemikiran meningkat. Karena risalah Nabi Muhammad SAW adalah untuk memenuhi manusia, setelah ia sendiri mencapai tahap kepintaran dan pertumbuhan akalnya secara keseluruhan telah mencapai kesempurnaan. Mukjizat Muhammad bisa dicapai dengan akal, tidak lagi membutuhkan macam-macam perasaan indra. Ia berupa ide-ide yang abadi, bisa ditangkap kearifannya oleh manusia dalam setiap generasinya. Ia merupakan mukjizat untuk membimbing dan meluruskan jalan hidup semua manusia.

“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS Al-An’aam, 6:153) – (Umar Said – sriwijaya_post)