Tag

,

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al ‘Ankabuut, 29:45)

Mengapa banyak orang yang rajin shalat masih tetap korupsi ?
Mengapa banyak orang yang gemar shalat masih suka melakukan kemaksiatan ?
Mengapa banyak orang yang terbiasa shalat, tapi sering sakit-sakitan ? Mengapa … ?

“Sebab shalat orang itu belum khusyuk,” kata Ustadz Ansufri Idrus Sambo, yang lahir Medan.


Kekhusyukan dalam shalat merupakan kunci agar shalat itu benar-benar membekas seperti penegasan Allah dalam ayat Al-Qur’an di atas (QS 29:45).

Lalu mengapa banyak orang yang belum khusyuk shalatnya? Menurut alumnus FMIPA IPB ini, karena mereka belum memahami tatacara shalat yang khusyuk.

“Betapa banyak orang yang setiap hari mengerjakan shalat, namun mereka tidak mengetahui cara mencapai shalat yang khusyu’,” ujar lelaki lelaki yang pernah nyantri di Pesantren Ulul Albab, Bogor itu.

Hal itu pun pernah dialaminya. Bertahun-tahun ia mencoba memahami arti khusyu’, dan mencari cara untuk menggapai shalat yang khusyu’. Namun ia tidak juga menemukannya.

“Saya bertanya kepada banyak ustadz. Namun jawaban yang saya peroleh tidak memuaskan saya. Karena itu saya terus mencarinya,” paparnya.

Cara yang rutin ia lakukan adalah melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ia melakukannya di Masjid Ulul Albab, setiap tahun, sejak 1993.

“Setelah mencari selama 13 tahun, Alhamdulillah, akhirnya pada tahun 2005, sewaktu iktikaf Ramadhan, saya menemukan makna dan cara menggapai khusyu’ dalam shalat,” katanya.

Selama ini khusyu’ itu terlalu abstrak, padahal sebetulnya tidak. Nabi sewaktu jadi imam, mendengar anak menangis. Lain waktu, shalat sambil menggendong cucunya.

“Khusyuk itu adalah kenikmatan berdialog dengan Tuhan. Jadi, bukan berarti tidak ingat apa-apa, tapi hal-hal lain kalah dengan nikmat dialog itu,” tegasnya. Di Al-qur’an dijelaskan:

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepadaNya.” (QS Al-Baqoroh, 2:45-46)

Sambo lalu memberikan rahasia singkat cara mencapai shalat khusyuk. Misalnya, tidak terburu-buru, tidak dalam keadaan perut lapar, tidak menahan buang angin atau pun buang air kecil. Hendaknya mengenakan pakaian terbaik, matikan ponsel, serta memahami bacaan shalat. Selain itu, bacaan shalat hendaknya perlahan-lahan, jangan terburu-buru.

“Lakukanlah shalat dengan bacaan yang menghiba, memelas, merintih kepada Allah. Sebab, Nabi mengatakan, bawa Allah senang mendengarkan hamba-Nya merintih,” papar Sambo.

Setelah shalat ditunaikan dengan sebaik-baiknya, maka shalat itu harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, serta meninggalkan maksiat dan segala bentuk kemunkaran.

“Inilah salah satu hikmah terpenting shalat,” tuturnya. (republika)