Tag

, ,

Al-Qur’an belum dipahami secara utuh dan komprehensif oleh umat Islam. Padahal Al-Qur’an menjawab berbagai persoalan yang dihadapi umat Islam dengan ragam budaya, sosial, dan perkembangan ilmu saat ini. Di Indonesia, pemahaman Al-Qur’an masih terbatas pada satu bentuk dan corak penafsiran.

“Akibatnya keistimewaan Al-Qur’an tidak dipahami sempurna,” kata M Quraisy Shihab, Pendiri dan Pimpinan Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta, Ahad lalu.

Quraisy mencontohkan, kata “atu az-zakat (tunaikan zakat)” masih dipahami dengan membayar zakat semata. Semestinya, kata tersebut memiliki pengertian yang luas tidak hanya membayar tetapi juga konsistensi menghimpun, menyalurkan, dan memberdayakan.

Dampak dari penafsiran tersebut, di Indonesia hanya mempertontonkan kemiskinan seperti pembagian zakat massal di bulan Ramadhan, karena ayat tersebut sebatas dipahami dengan gugur kewajiban membayar bukan mengentaskan mereka dari kemiskinan.

Namun demikian, langkah mencari penafsiran baru terhadap Alquran mesti didasari dengan fondasi dan akar yang kuat.

“Al-Qur’an sesuai dengan kondisi tiap masa biar dapat penafsiran tepat dan berikan penafsiran baru, tetapi jangan lepas dari akar membaca,” jelasnya saat memberikan kuliah umum perdana dalam Peresmian Pesantren Mahasiswa dan KuliahPerdana Sekolah Tinggi Kuliyyatul Quran, Al Hikam II, Beji, Depok, Ahad lalu. (republika)