Tag

,

Gus Dur ketawaKH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah diprotes oleh seorang penceramah di televisi, gara-gara ada rombongan ibu-ibu pengajian satu bis yang mencium tangan Gus Dur saat bersilaturrahim ke kediamannya di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan.

”Itu ada ulama tapi koq bersalaman dengan perempuan, kan bukan muhrim. Mestinya dia memberikan pelajaran yang baik kepada ummat,” katanya agak kesal.

Gus Dur tertawa saja mendengar itu. ”Memangnya perempuan satu bis mau saya nikahi semua, hehehe,” katanya.

”Masa bersalaman aja nggak boleh, lagian saya kan tidak lihat satu-satu orang yang datang,” kata Gus Dur.

Latar Belakang Presiden Gus Dur

Prof Dr Mahfud MD, yang kini memimpin MK, pernah diminta Presiden Gus Dur untuk menjabat Menteri Pertahanan, tapi ia menolak karena merasa tidak punya latar belakang di bidang itu.

“Saya ini tidak punya latar belakang di bidang pertahanan. Latar belakang saya kan hukum tata negara,” kata Mahfud.

”Kalau masalah gitu gak perlu latar belakang. Saya aja gak punya latar belakang presiden, tapi bisa jadi presiden,” jawab Gus Dur.

Mahfud tidak bisa menjawab.

Gus Dur Berbagi Amplop

Usai memberikan ceramah di suatu acara pengajian, Gus Dur dihampiri banyak orang yang ingin bersalaman dengannya. Seperti kiai pada umumnya, masyarakat memberikan amplop berisi uang kepada Gus Dur, atau kita kenal dengan salaman templek, pada saat bersalaman. Ini sebagai satu bentuk penghormatan. Isi amplopnya bisa beragam, sesuai kadar kemampuan ekonomi si pengamplop.

Setelah acara, Gus Dur berkumpul dengan teman-temannya. Amplop yang diterimanya tidak diambil semua untuk pribadinya. Beberapa amplop yang diterima dibagikan kepada tema-temannya yang adalah para kader dan pengawal yang setia mendampingi Gus Dur kemana-mana. Nah, karena Gus Dur baik hati, amplop yang berisi tebal justru dikasihkan kepada teman-temannya itu.

Teman-temannya berterima kasih kepada Gus Dur, seraya langsung menerima amplop dengan penuh semangat dan berbisik, “Wah Gus Dur ini baik sekali. Amplop yang tebal malah diberikan kepada kita. Alhamdulillah.”

Nah sekarang tibalah saatnya membuka amplop. Hah … Ternyata, amplop yang tebal berisi berlembar-lembar uang ribuan saja dan paling gede hanya pecahan lima ribuan. Sementara amplop Gus Dur yang tipis berisi beberapa lembar saja, tapi bergambar Sueharto tersenyum, alias uang limapuluh ribuan. Jadi tetap saja bagian Gus Dur lebih besar dibanding yang lain.

Semua menggerutu, “Ah mestinya pilih amplop yang tipis saja.” Gus Dur hanya tersenyum. “Tapi dari mana Gus Dur tahu isi amplop ya?”

Kali ini Gus Dur Kalah

Konon Gus Dur sempat memimpin perusahaan penerbangan Abdurrahman Wahid Air atau AW Air. Waktu itu Gus Dur melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kantornya, melihat para pegawainya bekerja.

Gus Dur sempat kaget melihat seorang yang duduk-duduk santai. Tidak bekerja. Padahal ini masih jam kerja.

“Kamu tidak bekerja?” tanya Gus Dur

“Maaf. Saya lagi istirahat Pak,” katanya.

Gus Dur tidak menjawab lagi. Pikirnya, karyawan ini sudah tidak bisa diberi ampun.

“Gajimu berapa sebulan?” Tanya Gus Dur.

“Satu juta Pak,” katanya.

“Ya sudah. Kamu saya kasih dua juta, dan kamu tidak usah lagi bekerja di sini.”

Orang tadi bengong, tapi uang pemberian Gus Dur tadi diterima begitu saja, dan dia langsung pergi.

Setelah itu, Gus Dur langsung memanggil salah seorang pimpinan direksi.

“Hei. Orang tadi sudah saya kasih pesangon, tidak usah lagi bekerja di sini. Kita harus tertibkan manajemen perusahaan,” kata Gus Dur agak jengkel.

“Wah. Dia bukan karyawan sini Pak. Dia pengantar barang,” kata pimpinan.

“Hah…,” Gus Dur tak bisa berkata apa-apa. Kali ini Gus Dur kalah. (okezone)

Sekedar humor ini “didaur ulang” dari Humor Gus Dur di Okezone. Kebenaran cerita ini tak bisa dipertanggungjawabkan.Jadi tak perlu dimasukkan ke catatan sejarah …😆