Tag

,

mahfud_mdMemperingati satu tahun wafatnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), seyogyanya menjadi pelajaran yang berharga bagi kita untuk berguru pada sejarah. Sejarah yang di dalamnya muncul orang-orang besar.

“Haul seperti ini penting, karena dengannya kita bisa belajar sejarah orang-orang besar. Orang besar yang jahat mau pun orang besar yang baik,” kata Mahfudz MD, ketua MK, dalam acara peringatan setahun wafatnya Gus Dur (haul) di kediaman Gus Dur,  Ciganjur, Jakarta Selatan.

Nah dari Gus Dur inilah, kita bisa belajar dari orang besar yang baik. Bagi Gus Dur sendiri mungkin tidak diperlukan seremonial haul seperti itu, namun kitalah yang musti mengambil manfaat darinya.

Salah satu pelajaran dari Gus Dur, Mahfud menceritakan bagaimana sikap Gus Dur saat ‘dihantam’ ramai-ramai menjelang kejatuhannya dari kursi presiden. Di saat-saat genting itu, datang menteri Luar Negeri Alwi Shihab, yang kemudian menyampaikan pendapatnya kepada Gus Dur.

“Gus ini kan politik. Mbok Gus Dur gak usah banyak komentar ngelawan lah, biarin aja orang nanti kan bisa reda, pemerintahan bisa jalan tenang,” kata Alwi seperti diceritakan Mahfud, yang menjadi Menteri Pertahanan di era Gus Dur.

Apa jawab Gus Dur? “Alwi, ente urusi aja itu orang-orang yang baik agar tetap baik. Yang preman-preman ini biar saya yang menghadapi, saya selesaikan sendiri,” kata Gus Dur dengan nada tinggi.

Gus Dur Tak Perlu Uang

Mahfudz MD begitu terkejut ketika Gus Dur dituding terlibat skandal Buloggate yang merugikan uang negara Rp 3 miliar. Akibat dari tudingan itu, Gus Dur kemudian lengser sebagai presiden. Hingga kini, Mahfudz tetap tidak meyakininya.

“Gus Dur bilang, dirinya tidak perlu uang. Tapi serius mengurusi Negara ini. Itulah tugas dan kewajiban saya sebagai presiden. Jadi, saya tidak butuh uang,” kata Mahfudz menirukan ucapan Gus Dur.

Haul Gus Dur digelar, tak lain untuk mengenang jasa serta perjuangan orang besar seperti Gus Dur. Bagi Gus Dur, setiap orang yang melawan kebenaran, termasuk orang Islam, adalah kafir. Jadi yang disebut kafir, bukan hanya orang yang tidak beragama Islam. Dan orang non muslim pun, kalau berlaku benar akan dibela habis-habisan oleh Gus Dur.

“Orang Islam yang melakukan kesalahan itu kafir. Karena itu, Gus Dur tegas dan menghadapi sendiri orang-orang yang dianggap sebagai preman di sekitar Istana dan pemerintahan sewaktu menjadi presiden. Beliau sangat santun terhadap siapa pun termasuk rakyat kecil yang memang baik,” jelas Mahfudz.

Gus Dur akan keras sikapnya terhadap orang-orang yang melakukan kesalahan. Sikap ini, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad saw, berlaku keras terhadap orang-orang yang dinilai kafir, asyidda’u `alalkuffari ruhamaa’u bainahum.

“Sekali lagi, haul ini tidak lain untuk mengingatkan kita mengenang sekaligus untuk melanjutkan perjuangan orang-orang besar seperti Gus Dur,” kata Mahfudz MD.

Tak Pandang Bulu

Inayah Wulandari Wahid yang menyampaikan sambutan mewakili keluarga juga merasa heran betapa Gus Dur begitu ikhlas dan berbesar hati untuk menerima siapa pun orang-orang tanpa memandang bulu. Meski orang itu telah mengkhianati, menyakiti dan menghina Gus Dur.

Haul Akbar Gus Dur Ke-1 itu menjadi penting, di tengah abainya pemerintah terhadap beragam kasus kekerasan atas nama agama.

“Artinya besar banget. Karena tujuan dari bikin haul supaya masyarakat bisa diingatkan akan nilai-nilai yang ditinggalkan Bapak (Dus Dur),” kata Inayah, putri bungsu almarhum Gus Dur.

Inayah menjadi ketua panitia acara tersebut. Boleh jadi, ia menjadi orang yang paling sibuk dalam acara haul ini.

“Semua orang bilang, siapa nih yang gantiin Gus Dur. Ya, enggak ada dan enggak perlu juga,” kata pendiri organisasi Positive Movement sejak 2006, yang mendorong anak muda berpikir positif untuk membangun bangsa itu.

Menurut Inayah, yang sekarang perlu dilakukan adalah menyebarkan nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur kepada sebanyak-banyaknya orang dari berbagai golongan.

“Karena memang tidak bisa dibebankan pada satu orang. Bahkan, mungkin Bapak sendirian pun tidak bisa,” ujarnya.

Inayah yakin, generasi muda menjadi agen terbaik untuk menyebarkan pemahaman mengenai pluralisme di Indonesia.

“Kita (anak muda) yang pegang kuncinya. Ya, ayo, mari kita bekerja,” ajak Inayah.

Tekad ini pula yang membuat putri tertua Gus Dur, Alissa Qotrunnada Wahid, mengumpulkan tulisan tentang Gus Dur lalu bersama penerbit Lembaga Kajian Islam dan Sosial menerbitkan 3.000 buku kecil. Buku saku tersebut menjadi semacam suvenir “ilmu” bagi semua tamu.  (gusdur.net)

musik-kaukus-gede pada acara haul gus dur