Tag

,

Gus DurGus Dur dalam pembicaraannya sering menyatakan bahwa Indonesia bukan negara agama.

“Itu adalah hal yang final,” tegas Gus Dur.

Ia “tidak betah” jika masih ada anggota legislatif masih berkutat pada persoalan itu. Lalu Gus Dur bercerita tentang seorang anggota legislatif yang ngotot ingin menjadikan Indonesia sebagai negara agama.

“Saat anggota dewan itu jadi pembicara di sebuah seminar, ia dipanggil dengan titel Prof. di depannya,” kata Gus Dur.

Ketika kembali ke kantornya, Satpam pun mempersilahkan masuk kepada anggota dewan kita itu dengan berkata : “Silahkan masuk prof.”

Nah, kolega-koleganya pun, kata Gus Dur, ternyata menyambut dengan berkata “Selamat pagi Prof, Assalamualaikum Prof.”

Si anggota dewan ini heran juga, padahal seumur-umur dia belum pernah dianugerahi gelar profesor. “Atau karena keberaniannya ya dia mendapat gelar terhormat itu,” kata si anggota dewan dalam hati.

Gus Dur melanjutkan, karena saking bangga dan penasarannya anggota dewan ini pun bertanya kepada kroninya. “Kenapa ya saya sekarang dimana-mana dipanggil Prof?”

“Wah… jangan bangga dulu pak!” kata si kroni. “Mereka itu nyebut prof bukan dengan akhiran huruf F tetapi dengan huruf V, jadi Prov. gitu!”

“Lho, Prov. apa artinya itu ?” tanya si anggota dewan penasaran.

Kroninya menjawab, “Provokator.” (gdn)😆

Tim Pengusir Hantu Pondok Indah

Mungkin karena bahasan jumpa pers Gus Dur siang itu yang panjang dan serius, seorang wartawan tak kuasa menahan “kebekuan.” Wartawan itu pun nyeletuk, menanyakan masalah di luar materi jumpa pers siang itu, Isu hangat yang jadi perbincangan warga Ibu Kota, yaitu hantu penunggu rumah mewah di jalan Pondok Indah.

Entah serius atau tidak, atau mungkin ia pikir Gus Dur berkompeten dalam hal perhantuan dan makhluk gaib dkk, sang Wartawan pun bertanya memecah keseriusan.

“Gus, rumah kosong yang di Pondok Indah yang katanya banyak hantunya, gimana Gus?” tanya wartawan itu membuat peserta jumpa pers lainnya tersentak. Wartawan lain mungkin berpikir, koq bisa-bisanya nanya begituan pada Gus Dur.

Tapi namanya Gus Dur, yang mungkin memiliki motto “kalau ditanya harus jawab”, ia mengomentari hal itu dengan santai.

“Sorry, saya belum pernah ketemu hantunya,” jawab Gus Dur ditimpali tawa semua wartawan berderai-derai.

Ternyata, selayaknya wartawan profesional, sang penanya tak mau kalah, ia mencecar Gus Dur lagi, “Apa perlu Gus Dur mengirimkan tim khusus untuk mencek kebenaran adanya hantu itu?”

Sambil terkekeh Gus Dur menjawab dengan tangkas, “Kalau mau, anda boleh jadi ketua timnya. Kayak gitu koq diurusin, lho.” (gdn)😆