Tag

, ,

greg bartonForum Gusdurian, para penggila pemikiran Gus Dur, kedatangan tamu spesial, yang beberapa karangannya hingga kini menjadi acuan penting bagi jalan masuk memahami siapa sejatinya Gus Dur. Greg Barton, penulis biografi KH Abdurrahman Wahid, didapuk menjadi pembicara perdana kongkow Gusdurian di kantor Wahid Institute, Jalan Taman Amir Hamzah nomor 8 Jakarta Pusat, Rabu lalu.

Profesor Monash University ini ngobrol bersama para Gusdurian mengenai beberapa hal terkait dengan warisan pemikiran Gus Dur (legacy of Gus Dur). Banyak hal penting yang bisa menjadi penunjuk jejak dan tapak pemikiran Gus Dur. Namun, Greg menyebut paling tidak tiga aspek yang bisa menjadi petunjuk dasar terbentuknya karakter pemikiran Gus Dur.

Pertama, terusan dari pemahaman Islam tradisional yang sudah lama berjalan. “Tidak heran kalau di negara lain, ditempat lain, di tempat yang berbeda ada ide yang sama,” ujar Penulis buku Nahdhatul Ulama, Traditional Islam and Modernity in Indonesia.

Kedua, persinggungan dengan gagasan nasionalisme. Faktor ini yang membentuk Gus Dur sebagai seorang negarawan yang luar biasa disegani, baik di negeri sendiri maupun dunia internasional.

“Ini merupakan ide-ide yang tidak tiba-tiba muncul dalam dirinya Gus Dur, tapi sudah muncul pada tahun 20-an lewat gerakan nasionalisme,” papar Greg.

Dua faktor tersebut menjadi alasan penting dalam menjawab tuduhan yang menyudutkan Gus Dur sebagai pembawa misi liberalisme Islam. Tuduhan itu jelas tidak masuk akal. Karena jejak pemikiran Gus Dur memang telah hadir sejak awal, jauh sebelum kemerdekaan RI.

“Pemikiran Gus Dur sama dengan almarhum Wahid Hasyim dan Hasyim Asy’ari,” jelas peneliti Liberalisme Islam di Indonesia.

Aspek ketiga, Humanitarianisme. Aspek ini menjadi faktor penting bagi titik temu pemahaman banyak orang tentang Gus Dur. Komitmen Gus Dur tentang toleransi, saling menghormati, saling menolong merupakan nilai-nilai universal yang semua orang mengakuinya.

“Ini merupakan kunci masyarakat yang sehat dan adil,” tegasnya.

Namun secara pribadi pria asal Australia ini mengakui 3 aspek tersebut keluar dari subjektifitasnya dalam melihat Gus Dur. Karenanya yang terpenting baginya adalah bagaimana menerapkan dan menjelaskan gagasan Gus Dur yang bagi sebagian kalangan sulit dipahami. Perlu upaya yang terus menerus dan arif.

Pesan greg untuk meneruskan pemikiran Gus Dur itu diamini Alissa Wahid, putri pertama almarhum Gus Dur. Sudah satu tahun terakhir ini, Alissa berupaya menemui banyak orang yang masih nyambung dengan ide-ide besar Gus Dur. Karenanya terbentuknya jaringan atau forum Gusdurian ini, bagi Alissa, tak lepas dari keinginan untuk terus mengaitkan perca-perca pemikiran Gus Dur di banyak daerah di Indonesia.

“Gak mungkin kita melanjutkan pemikiran Gus Dur itu sendiri, karena kita bukan orang yang seperti Gus Dur,” kata Alissa.

Jika Gus Dur telah berhasil mencetak murid dan kader yang begitu banyak, tambah Alissa, maka tugas kita sekarang adalah bagaimana merawat keberagaman gelanggang dan interpretasi terhadap sosok Gus Dur itu.

Diskusi bersama Greg Barton itu berjalan begitu hangat dan dihadiri oleh puluhan orang. Terlihat di antara mereka para aktifis LSM, mahasiswa, juga pendukung setia Gus Dur yang tergabung dalam kongkow bareng Gus Dur. Turut hadir pula putri ketiga dan keempat almarhum Gus Dur, Anita Hayatunnufus dan Inayah Wulandari. Diskusi dipandu oleh peneliti Wahid Institute Badrus Samsul Fata. (gdn)

greg barton