Tag

, , ,

muhammad_sawDi belahan bumi manapun, bulan Rabi’ul Awwal selalu menjadi istimewa bagi umat Islam. Hal ini disebabkan pada hari ke-12 dari bulan hijriah tersebut, Sang Rasul, pembawa risalah Islam, Muhammad SAW, dilahirkan ke bumi.

Sebagian sejarahwan, seperti Muhammad Husain Haekal dalam Hayat Muhammad menyatakan, bahwa Sang Rasul lahir pada Tahun Gajah (570 Masehi). Pendapat ini diperkuat oleh pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan Sang Nabi SAW lahir pada Tahun Gajah itu.

Adapun Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, seorang pemenang lomba penulisan sejarah Nabi dalam Mu’tamar Islam pertama tentang Sirah Nabawiyah di Pakistan tahun 1976 M/ 1396 H, menyatakan bahwa hari kelahiran Rasul tersebut jatuh bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 Masehi.

Dalam rentangan sejarah hingga saat sekarang, hari sakral tersebut diperingati oleh umat Islam sebagai momen untuk mengenang Sang Teladan umat itu. Di Indonesia peringatan ini dikenal dengan istilah maulud Nabi atau milad Nabi.

Peringatan kelahiran Sang Nabi SAW tersebut oleh kaum muslim biasanya dijadikan sebagai momen untuk selalu mengenang dan meneladani Sang Rasul nan Agung. Perilaku meneladani tersebut tidak hanya terhadap risalah (ajaran) yang Rasulullah SAW bawa untuk seluruh umat manusia, namun juga meneladani beliau dalam kepribadiannya yang memang mencerminkan risalah yang dibawa.

Suri teladan yang baik

Tidak sedikit ayat Al-Qur’an yang menjelaskan keutamaan Sang Nabi SAW. Allah SWT menegaskan hal tersebut dalam surat Al-Ahzab (33) ayat 21. Isi ayat tersebut adalah penegasan Al-Qur’an mengenai pribadi Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak berzikir pada Allah.”

Beliau dideklarasikan sebagai uswah Al-hasanah. Uswah berarti teladan, adapun hasanah berarti baik. Uswah Al-hasanah atau Uswatun hasanah bermakna teladan yang baik, sebagai panutan dan contoh. Ayat tersebut menerangkan bahwa Rasulullah SAW adalah contoh yang harus diikuti oleh umat Islam. Dengan ungkapan lain, jelas dan nyatalah ayat tersebut merupakan suatu penekanan atau penegasan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan suri teladan atau contoh yang harus kita teladani atau kita contohi.

Dalam konteks sekarang ini, ajakan untuk meneladani Rasulullah SAW menjadi sangat relevan, setidaknya karena dua hal, yakni kepemimpinan dan akhlak Sang Rasul SAW. Terkait kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, beliau adalah pemimpin umat yang sangat sempurna. Beliau selain dikenal sebagai pengemban amanah risalah Islam, juga dikenal sebagai pemimpin Negara.

Dan keduanya sukses beliau emban dan jalankan sehingga mewujudkan peradaban baru di masyarakat ketika itu. Rasulullah SAW merupakan satu-satunya pemimpin yang mampu menjalankan dan menikmati ide atau gagasan terkait masyarakat beradab (madani) yang utuh sebelum meninggalkan kehidupan di dunia ini.

Kepemimpinan

Sebagai pemimpin Negara, Sang Rasul SAW sukses meletakkan dasar atau fondasi kenegaraan, yang kemudian menjadi cikal bakal pola ketatanegaraan modern. Konsep trias politica yang berkembang dewasa ini, dimana pemerintahan terdiri dari bagian legislatif, eksekutif dan yudikatif, sebenarnya telah ada pada masa kepemimpinan Rasulullah SAW di Madinah. Mantan Menteri Agama RI, Munawwir Sjadzali mengatakan bahwa, Nabi Muhammad SAW adalah eksekutor sekaligus legislator dan yudikator.

Lebih dari itu, konsep konstitusi pemerintahan Rasulullah SAW yang terdapat pada Piagam Madinah malah menjadi konstitusi yang paling dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat. Piagam Madinah terbukti mampu mendamaikan keberagaman penduduk Madinah ketika itu yang multi etnik dan multi agama, baik penduduk asli maupun pendatang dari berbagai penjuru dari luar kota Madinah.

Akhlaq mulia

Lebih lanjut, terkait dengan akhlak, Nabi Muhammad SAW sungguh mempunyai budi pekerti yang mulia nan Agung, terutama dalam memuliakan sesama manusia. Dalam surat At-Taubah (9) ayat 128, Allah SWT menjelaskan akhlak Sang Rasul.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Pada ayat ini, Al-Qur’an memberikan penjelasan, bahwa salah satu sifat Sang Nabi SAW adalah Al-Ra’uf, belas kasihan. Sikap ini sekaligus menjadi nama lain dari Rasulullah SAW.

Al-Qur’an hidup

Akhirnya, dalam suatu hadis yang diriwayat oleh Abu Dawud dan Muslim disebutkan bahwa ketika ‘Aisyah isteri Sang Rasul SAW ditanya mengenai bagaimana akhlak Rasulullah SAW, ‘Aisyah memberikan kesaksian dan berkata: “Kana khuluquhu Al-Qur’an,” (Sesungguhnya perilaku Sang Nabi SAW adalah Al-Qur’an).

Rasulullah SAW merupakan Al-Qur’an yang berjalan. Nabi Muhammad SAW dijuluki sebagai Al-Qur’an Hidup (The Living Qur’an). Untuk itulah sudah semestinya kita umatnya menjadikan Sang Rasul Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan kita. dan untuk meneladani beliau salah satunya adalah dengan mempelajari Al-Qur’an. Untuk meneladani Rasulullah SAW seyogyanya Al-Qur’an dijadikan sumber kesadaran hidup bagi umat Islam.

Karena Sesungguhnya perilaku Sang Nabi SAW adalah Al-Qur’an! Al-Qur’an semestinya dijadikan sebagai sumber pandangan hidup orang beriman. Untuk itulah, Al-Qur’an harus direnungkan dan dikaji, kemudian diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat sehingga pesan-pesan dan ajaran Al-Qur’an dengan sendirinya menjadi sikap hidup.

Sebagai penutup, melalui momen kelahiran Rasulullah SAW 1432 H ini, hendaknya peringatan maulid atau milad Rasul tidaklah sekedar ritual tahunan semata. Meneladani kepemimpinan dan akhlak serta keteladanan yang lain dari Nabi Muhammad SAW merupakan hikmah dari peringatan tersebut. Pada konteks kekinian, peringatan kelahiran Rasulullah SAW seharusnya bisa dijadikan sarana untuk “mengobarkan semangat perjuangan menuju perubahan” ke arah yang lebih baik. Wallahu Al-‘Alim. [Muhammad Arif Fadhillah Lubis, SHI, MSI / analisa]