Tag

, ,

Lirboyo pondok pesantrenMesin politik Orde Baru untuk mengokohkan kekuasa- annya adalah Golkar. NU adalah partai terbesar (1971) yang diangap sebagai penghalang utamanaya. Apa pun caranya, Golkar harus menjadi partai besar, tiada tanding- an. Dan oleh karena itu, NU harus dikerdilkan, apa pun caranya. Seluruh aparat pemerintah baik sipil mau pun militer berusaha menggolkarkan apa saja, utamanya NU.

Adalah Kiai Mahrus Ali, Rais Syuriah NU Jawa Timur dan pimpinan pesantren Lirboyo Kediri, yang diincar Golkar. Para pejabat tinggi negara berdatangan ke pesantren itu. Laksamana Sudomo termasuk pejabat yang awal-awal datang, dan tidak baen-baen, dia ke Lirboyo membawa mobil baru, untuk dihadapkan Kiai Mahrus sebagai hadiah.

Sang kiai mau menerima mobil itu, asal tanpa syarat. Mobil diberikan tanpa syarat apapun.
Tapi suatu ketika pejabat setempat mulai neko-neko ngajak sang kiai masuk Golkar. Maka kiai Lirboyo asal Cirebon itu mengancam akan mengembalikan mobil pemberian Sudomo. Akhirnya Kiai Mahrus tak dipaksa masuk Golkar.

Golkar ngotot. Dicari cara lain dan kasar. Suatu ketika pemerintah memberikan sumbangan  aliran listrik untuk penerangan pesantren dan jalan ke Lirboyo. Tapi, menjelang peresmian instalasi listrik itu dipasanglah bendera Golkar sepanjang jalan menuju pesantren. Tentu saja Kiai Mahrus protes mendatangi Kamtib setempat dengan mengatakan:

“Pemasangan listrik ini merupakan sumbangan dari pemerintah bukan Golkar, karena itu bendera Golkar harus dicopot. Kalau pimpinan Golkar tidak mau mencopot, biar para santri yang mencabuti.”

Pihak Kamtib menjawab, “Kalau begitu ya sudah Kiai, bisa-bisa nanti listriknya tidak jadi disambung.”

“Kalau listriknya tidak jadi dipasang, silahkan pohon-pohon yang sudah ditebang sepanjang jalan itu dihidupkan kembali,” balas Kiai Mahrus.

“Wah! Susah, bagaimana bisa menghidupkan pohon. Ya kiai, listrik akan tetap disambung  dan tetap akan diresmikan oleh para pejabat,“ jawab Kamtib.

Penolakan para kiai terhadap Golkar bukan sikap yang apriori, tapi berdasarkan pengalaman banyak kiai dan warga NU yang diintimidasi, disiksa, dimasukkan penjara bahkan ada yang dibunuh.  Ketika Golkar makin  agresif dalam menggolkarkan kiai, beberapa Kiai NU seperti Kiai Mustain Ramli Jombang sudah masuk Golkar, juga ada beberapa Kiai NU di jawa Tengah sudah masuk Golkar.

Di Indramayu, Jawa Barat, tokoh NU disiksa, beberapa rumah dan masjid dirusak Angkatan Muda Siliwangi. Intimidasi terjadi merata di kantong-kantong santri, dari Brebes Jawa Tengah hingga Situbondo, Jawa Timur,  dari Bekasi hingga Banten.

Untuk menghadapi agresivitas Golkar itu, Kiai Mahrus saat itu berpesan, “Ojo sampek anak turunku mlebu Golkar sampek pitung turunan, nek sampek ning Golkar maka tidak akan panjang umur (jangan sampai keturunanku masuk Golkar sampai tujuh turunan, kalau sampai masuk Golkar maka tidak akan panjang umur).”

Kemudian kiai Lirboyo yang lain juga berpesan, “Poro santriku tak pesen ojo melu-melu Golkar” (para santriku jangan ikut-ikutan Golkar). Peringatan diberikan karena saat itu sedang galak-galaknya Golkar mengintimidasi para tokoh dan warga NU.

Namun demikian Kiai Mahrus menasehatkan pada para santrinya agar tetap mengetahui arah politik sebagaimana dikatakan dalam sebuah kaidah campuran Jawa Arab, “Man lam ya’rif politik akalaahul politik (barang siapa tidak mengetahui politik, maka akan dimakan politik).”

Memang kebanyakan para kiai menjadi politisi NU. Dengan prinsip yang ditanamkan kiai seperti itu maka pesantren pada umumnya menjadi benteng NU dan benteng ajaran ahlussunnah yang sangat kokoh. (Abdul Mun’im DZ, disadur dari buku Biografi Para Kiai Lirboyo, dan beberapa sumber lainnya)  – [nu-online]

Lirboyo 1 abad