Tag

,

dari pesantren untuk umatDunia pesantren begitu menarik untuk diteliti. Sudah banyak pemikir, dari dalam maupun luar negeri, yang memusatkan kajian mereka pada lembaga pendidikan indegenous Indonesia ini. Seka- dar menyebut beberapa di antara mereka adalah Martin Van Bruinessen (Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat); Karel A Steen brink (Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dan Kurun Modern); Manfred Ziemek (Pesantren dalam Perubahan Sosial); Zamakhsyari Dhofier (Tradisi Pesantren); Nurcholish Madjid (Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan); Mastu- hu (Dinamika dan Sistem Pendidikan Pesantren); dan lainnya.

Dan masih satu tarikan nafas dengan itu, buku Prof Dr H Babun Suharto SE MM ini mencoba untuk mengeksplorasi dinamika masyarakat global, dengan berbagai tantangan nyata yang sedang dan akan dihadapi oleh dunia pesantren.

Tidak disangkal, dunia sekarang ini —meminjam istilah Alvin Toffler— memasuki apa yang disebut sebagai era informatika. Era ini dilambangkan oleh silikon dan microchip sebagai komponen teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence), seperti komputer, internet, kamera, ponsel, dan lainnya. Dengan demikian, power paling canggih sekarang ini bukan lagi yang ditopang oleh kekuatan fisik atau mesin, melainkan ilmu pengetahuan dan sistem (M Husnaini: 2010).

Fakta inilah yang harus dijawab dengan segera dan cerdas oleh dunia pendidikan di Indonesia, terutama pesantren. Sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tertua di bumi nusantara, pesantren harus mampu menangkap dan memaknai pesan ini secara tepat dan bijak. Jika tidak, pelan-pelan masyarakat akan mengucap good bye pada pesantren, karena sistem pendidikannya dianggap tidak mampu melahirkan sumber daya umat (SDU) yang senafas dengan tuntutan zaman.

SDU yang dimaksud oleh penulis buku ini adalah segenap energi, potensi, bakat, kemampuan, dan keterampilan umat Muslim yang dapat digunakan untuk tujuan-tujuan dirinya dan kepentingan bangsa, negara, dan agama dalam bingkai tanggungjawab sebagai hamba dan khalifah Allah (hal 60).

Memang, akibat pengaruh globalisasi, tugas yang dipikul pesantren tidak lagi ringan. Pesantren kini tidak boleh hanya sekadar menelorkan santri-santri yang mampu menggali khazanah keislaman dari literatur-literatur yang berbahasa Arab (Kitab Kuning), tetapi juga harus sanggup menggali aneka ilmu pengetahuan dari literatur-literatur yang berbahasa Inggris (Kitab Putih). Ini penting dilakukan, agar kelak lahir generasi bangsa yang unggul di bidang agama dan master di bidang sain dan teknologi. Dan, pesantren tidak mengalami —seperti kata Abd Rachman Assegaf— intellectual deadlock (kebuntuan intelektual).

Dalam rangka ini, penulis lalu mengusulkan sebuah konsep yang sangat kontekstual: agar pesantren menerapkan link and match dalam kurikulumnya. Artinya, harus terdapat kesesuaian antara pendidikan pesantren dan kebutuhan dunia kerja.

Tegasnya, antara fiqh-based education dan scientific-based education harus terjalin secara seimbang. Inilah, kata penulis, perwujudan dari kredo yang sangat bagus itu, al-muhafadla tu ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Meski sangat bersemangat dengan gagasan link and match, penulis mengakui bahwa link and match adalah sebuah istilah yang bukan berasal dari dirinya, tetapi Prof Wardiman Djojonegoro (Mendikbud 1993-1998). Seperti umumnya konsep hasil “ijtihad” manusia, penulis tidak lupa menyertakan beberapa kritik dari banyak pemikir pendidikan.

Oleh Darmaningtyas, dalam buku Pendidikan Rusak-Rusakan, misalnya, dikatakan bahwa konsep link and match hanya akan menjadikan lembaga pendidikan sebagai pasar atau swalayan. Ia hanya dipakai sebagai instrumen penyuplai buruh dan kuli industri, bukan instrumen untuk mencerdaskan dan mendewasakan anak bangsa (hal 113).

Dan, sebagai jawaban atas kritik itu, penulis kemudian meluruskan bahwa dugaan link and match akan menjadikan lembaga pendidikan hanya berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dunia industri adalah tidak tepat. Untuk itu, penulis berargumen bahwa yang dimaksud kebutuhan pasar di sini adalah, bagaimana agar pendidikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspeknya, seperti pertanian, perikanan, perbankan, arsitektur, seni, dan lain seterusnya. Jadi, bukan dalam bidang industri saja (hal 114).

Dari sudut pandang Islam, gagasan yang diajukan penulis ini juga memperoleh pembenaran. Dalam al-Quran, Allah sudah mewanti-wanti umat Muslim agar dapat meraih kebahagiaan akhirat tanpa harus mengabaikan kenikmatan dunia (Lihat Qs al-Qashash, 77). Juga, kita bisa simak pesan lain yang senada dengan itu dalam ayat,

“Wahai orang-orang beriman. Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila shalat telah dilaksanakan, menyebarlah kamu di bumi. Carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung (Qs al-Jumuah, 9-10).

Ayat-ayat ini jelas menyiratkan makna, agar kita selalu menjaga keseimbangan, dan ini juga dapat tarik ke dalam ranah pendidikan, terutama pesantren.

Kita harus ingat ungkapan Anthony Giddens. Ia menyatakan bahwa dunia sekarang sedang berlari kencang mengejar perubahan yang begitu cepat. Sebab itu, sebagai sebuah solusi alternatif untuk meneguhkan eksistensi pesantren di tengah cepatnya perubahan akibat arus globalisasi itu, kehadiran buku ini patut disambut secara positif. Terlebih, buku ini ditulis oleh seorang yang tidak saja peduli, tetapi juga pakar dan tahu secara persis lika-liku kehidupan kaum bersarung. Selamat membaca! [nu-online]

Judul Buku: Dari Pesantren untuk Umat, Reinventing Eksistensi Pesantren di Era Globalisasi
Penulis: Prof Dr H Babun Suharto SE MM
Penerbit: Imtiyaz, Surabaya
Cetakan: I, Januari 2011
Tebal: xviii + 161 halaman
Peresensi: M Husnaini – penulis dan editor buku, Sarjana Pendidikan Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya