Tag

, , ,

gus dur wali sosialKH Salahuddin Wahid, biasa dipanggil Gus Sholah, yang merupakan adik kandung Gus Dur memiliki pendapat kewalian bisa dibagi pada aspek sosial dan aspek agama. Jika secara sosial, masyarakat sudah menganggap seseorang sebagai wali, ia jadi wali.

“Bagi saya, Gus Dur itu wali sosial. Kalau dari sudut pandang agama, saya tidak tahu, ini rahasia Allah,” katanya, Rabu (23/2).

Namun ia mengakui, ada tanda-tanda kewalian dalam diri Gus Dur yang akhirnya membuat orang percaya bahwa mantan ketua umum PBNU ini adalah wali.

“Saya juga pernah mendengar banyak cerita, dari yang mengalami langsung, Gus Dur ngasih tahu begini-begini dan benar. Artinya bukan tanpa alasan, anda indikator yang dipercaya bahwa Gus Dur adalah wali,” ujarnya.

Namun secara pribadi, sebagai saudara kandung yang tumbuh dan besar bersama- sama ia malah tidak pernah melihat keanehan-keanehan yang dilakukan kakaknya itu. Gus Sholah juga mengaku bukan orang yang menggemari dan mendalami dunia spiritual.

Apresiasi atas kewalian Gus Dur yang ditunjukkan oleh masyarakat, yang merupakan cerminan perilaku sosial di antaranya dapat ditunjukkan banyaknya orang yang datang ke makam mantan presiden RI ke-4 ini, meski pun tak ada yang menyuruh.

“Orang timbul kesadaran sendiri, saya menafsirkan karena Gus Dur banyak berbuat hal yang baik bagi masyarakat. Ini diterima oeh masyarakat sebagai sesuatu jasa Gus Dur, dan itu ditafsirkan sebagai niat tulus. Gus Dur semasa hidupnya juga rajin berziarah ke makan wali, Allah membalas dalam bentuk yang sama,” terangnya.

Mengenai kemampuan Gus Dur untuk tahu sebelum datangnya peristiwa, Pengasuh Pesantren Tebuireng ini menganggap ada pembicaraan Gus Dur yang harus dinilai sebagai analisis, bukan ramalan.

“Contoh saja, Gus Dur mengatakan DPR kayak TK, nyatanya memang seperti itu. Ini kan analisis, bukan ramalam, tapi oleh masyarakat dianggap doyo linuwih, kelebihan yang sifatnya ada mistisnya,” paparnya. [nu-online]

Aisyah Wahid: Tidak Perlu Heboh Tentang Wali

Fenomena ambrolnya makam Pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Tebuireng yang kemudian dianggap sebagai pertanda kewalian karena diceritakan kelihatan kafannya yang masih putih bersih, tidaklah perlu disikapi berlebihan. Makam yang ambrol adalah hal biasa, terutama jika terguyur hujan dalam waktu yang lama.

Demikian adik kandung Gus Dur Aisyah Wahid dalam perbincangan dengan NU Online di kediamannya Bilangan Kemang, Kamis (24/2). Isteri KH Hamid Baidhowi ini berharap, masyarakat tidak perlu menghebohkan kewalian Gus Dur.

“Tidak perlu heboh tentang wali. Karena hanya Allah dan para wali yang tahu tentang wali,” tutur Aisyah.

Lebih lanjut mantan anggota DPR RI ini mengungkapkan, kejadian sebenarnya tidaklah seheboh yang diperbincangkan media dan masyarakat. Karenanya, Aisyah berharap masyarakat tidak perlu membahasnya berlarut-larut.

“Makam Gus Dur telah empat kali longsor. Makam itu longsor karena dahulu waktu dikebumikan tidak ada yang berani memadatkan urugannya. Ndak sopan katanya,” tandas Aisyah. [nu-online]

Makam-Gus-Dur