Tag

, ,

Alkisah, Nabi Musa As. dalam perjalanan hendak munajat di bukit Sina, kemalaman di jalan. Beliau berniat menginap di desa terdekat. Terdapat rumah yang paling terang di desa itu, dan Nabi Musa mampir untuk minta ijin menginap. Ternyata si pemilik rumah adalah seorang mucikari. Ia pun mempersilakan Nabi Musa menginap.

Demikian dinyatakan KH Habib Umar Muthohar saat memberikan ceramahnya di hadapan ratusan mbak-mbak (sebutan populer warga Resosialisasi Argorejo) di kompleks lokalisasi Sunan Kuning menggelar Mauludan bersama mahasiswa, kamis (3/3).

Kemudian Habib melanjutkan ceritanya: Mucikari itu berkata, “Wahai Nabi, saya ini merasa sangat banyak dosa. Sewaktu muda saya jual diri, sekarang menjual diri orang lain. Tolong tanyakan kepada Allah, saya akan dimasukkan ke neraka mana?”

Pamit dari rumah si germo, Nabi Musa bertemu wanita yang buntung tangan dan kakinya di pasar. Si wanita menjadi pengemis dan sabar atas cobaan itu. Dia titip pertanyaan kepada Nabi Musa, “Wahai Nabi. Aku ini dibero cobaan begini rupa dan sabar menerima takdir. Nanti akan masuk surga mana?”.

Dari pasar, di jalan bertemu seorang tua bangka yang berjalan sambil memegang tongkat. Si kakek juga bertanya pada Nabi Musa. “Wahai, Musa. Aku berasal dari desa yang jauh. Sudah 12 tahun tak ada hujan turun di desaku. Tolong tanyakan kepada Allah, kapan akan menurunkan hujan di desaku.

Nabi Musa pun menyampaikan semua pertanyaan mereka kepada Allah di bukit Sina. Ternyata Allah memberi jawaban yang mencengangkannya. Si germo dikabarkan akan masuk surga, dan si pengemis buntung akan masuk neraka Jahanam. Sedangkan si tua, diminta bersabar 12 tahun lagi.

Bergegas Nabi Musa kembali. Pertama kepada kakek tua. Mendengar penjelasan dari Nabi Musa, ia justru bersujud sambil menangis. Padahal jika melihat usianya, dia tak akan hidup pada saat hujan itu turun 12 tahun lagi.

“Terima kasih, ya Allah. Permohonanku Engkau kabulkan,” derai si kakek dalam tangisnya

Mendadak langit jadi gelap, mendung menutupi wilayah Mesir. Hujan pun turun dengan derasnya. Si kakek pun bertanya: “Wahai, Musa. Tadi katanya hujan masih 12 tahun lagi. Ini kok turun sekarang?”.

Dijawab Nabi Musa: “Karena Anda tak putus asa pada rahmat Allah, maka langsung diberi kontan. Tak jadi kredit,” ujar Habib Umar membuat kalimat sendiri dengan gaya bercanda.

Berikutnya, Nabi Musa menemui si pengemis. Dari jauh si pengemis sudah berbicara sombong: “Bagaimana Musa? Aku masuk surga yang mana?.

“Bu, mohon maaf. Waktu saya tanyankan soal Anda, Allah sedang sibuk memasukkan 60 ekor unta ke lubang jarum,” tutur Nabi Musa tak tega mengabarkan tentang neraka untuknya.

“Ah, tidak mungkin. Itu jelas mustahil. Ekor unta pun tak bisa masuk lubang jarum,” sergah si wanita buntung.

“Tapi Allah Maha Kuasa lho, Bu” sahut Nabi Musa.

“Meskipun Allah Maha segalanya, aku tetap tak percaya itu bisa terjadi,” tukasnya seraya menuding Nabi Musa telah membual.

Sementara itu, ketika Nabi Musa menyampaikan kabar kepada si germo, bahwa ia akan diberi surga, seketika itu langsung sujud sambil menangis sekeras-kerasnya. Dia memohon ampun kepada Allah, kok bisa-bisanya akan masuk surga. Belum lagi Nabi Musa  As. berpamitan, si germo itu meninggal dunia.

Allah memberitahu Nabi Musa, si germo diampuni segala dosanya karena merasa bersalah dan memohon ampun. Dan selama hidup dia masih punya iman. Sedangkan si pengemis meski sabar, tak punya iman dan bersikap sombong. Itulah yang membuatnya masuk neraka.

“Subhanallah. Mari kita tetap memegang iman. Jangan pernah menganggap rahmat Allah menjauh meski saat ini kita mungkin belum berada lurus di jalannya,” pungkas Habib Umar dengan mata terpejam, saking harunya. [nu-online]

Habib Umar Muthohar muludan di Semarang