Tag

, , , , , , , ,

masa depan islam - islam dan perdamaian duniaPeristiwa 11 September 2001 (11/9), yakni serangan yang meluluhlantakkan gedung World Trade Center (WTC) dan Pentagon, mengingatkan kita, bahwa mulai sejak itu Islam dan umatnya dikecam oleh dunia Barat. Islam dituduh dan dipojokkan sebagai agama terorisme, yang melegitimasi aksi kekerasan (terorisme). Dan umat Islam (muslim) dianggap sebagai komunitas yang sangat berbahaya. Orang-orang Barat mengalami Islamofobia, ketakutan yang berlebihan, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan Islam dicurigai.

Dari peristiwa 11/9 tersebut, dalam beberapa jam saja teroris telah mengubah abad ke-21 menjadi sebuah dunia yang didominasi oleh perang, yang dipimpin oleh Amerika melawan terorisme global. Mereka juga berusaha memperburuk citra Islam dan Muslim sebagai yang harus ditakuti dan dilawan. Sebagian orang bahkan berbicara tentang perang peradaban (hlm. 19).

Dalam hal itu, Samuel Huntington dalam bukunya berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order memperkirakan terjadinya benturan antarbudaya (Islam dan Barat), seperti yang kemudian terjadi setelah peristiwa 9/11  tersebut. Berbekal buku tersebut, banyak orang yang melihat perbenturan budaya antara Islam dan Barat, yang kemudian memunculkan gerakan penumpasan terorisme yang dilakukan oleh Islam ekstremis, dipimpin oleh Amerika Serikat.

Prof. John L Esposito adalah salah seorang yang berada di garda depan dalam menjelaskan Islam kepada dunia Barat. Buku yang berjudul Masa Depan Islam: Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat merupakan hasil dari pengalamannya selama beberapa dekade tentang Islam dan politik Muslim.

Pasca 9/11 citra Islam dan Muslim sangat buruk di mata Barat. Islam dianggap sebagai agama yang harus dilawan, karena keberadaannya di dunia ini menjadi ancaman bagi terciptanya perdamaian. Selain teroris dan anarkis, Islam juga dianggap oleh Barat sebagai agama yang tidak manusiawi terhadap perempuan (masalah gender), anti modernitas, anti pluralisme dan pluralitas, dan lain sebagainya.

Fitnah-fitnah yang tidak adil terhadap Islam itu berhasil memperburuk citra Islam di mata dunia internasional umumnya, dan di Barat khususnya. Hal itu telah memposisikan Islam sebagai pemeran antagonis, yang menjadi musuh utama dari peran protagonis (Barat).

Dalam kasus peristiwa 9/11, teroris sering dikaitkan dengan Islam, karena dianggap pelakunya adalah orang-orang Islam ekstremis. Lalu Islam diuniversalkan sebagai agama teroris, karena serangannya terhadap simbol ekonomi dan kekuatan Amerika Serikat. Hal ini berbeda dengan kasus-kasus kejahatan yang dilakukan oleh umat selain Muslim.

Misalnya pembunuhan PM Israel Yitzak Rabin oleh seorang fundamentalis Yahudi tidak lantas dikaitkan dengan agama Yahudi arus utama. Tidak pula skandal pelecehan seks pendeta diatributkan ke jantung Katolikisme. Kejahatan paling keji yang dilakukan ekstremis Yahudi dan Kristen tidak dilabeli sebagai cerminan Kristen atau Yahudi militan atau radikal.

Individu yang melakukan kejahatan itu sering disangkal dan dianggap fanatik, ekstremis, atau orang gila, ketimbang dicap sebagai fundamentalis Kristen atau Yahudi. Namun sebaliknya, terlalu sering pernyataan dan tindakan ekstremis dan teroris Muslim digambarkan sebagai bagian integral dari arus utama agama Islam (hlm. 23).

Dengan demikian, perbenturan antarbudaya, sebagaimana pendapat Samuel Huntington, tidak terhindarkan lagi. Padahal dalam masalah tersebut, ditumpangi dengan aksi politik dan ekonomi untuk kepentingan masing-masing pihak. Tidak dapat disangkal lagi bahwa hal itu sangat memicu dan memacu permusuhan dan kompetisi yang tidak sehat, serta meresahkan masyarakat dunia, seluruhnya.

Untuk mengatasi konflik tersebut, perlu adanya saling pengertian dan sikap toleransi yang harus diinternalisasikan pada masing-masing pihak. Dialog budaya antara Islam dan Barat menjadi peredam bagi benturan antarbudaya. Jika hal itu terabaikan, masa depan dunia bisa dipastikan akan semakin suram, dan hanya akan mempercepat masa “kiamat”. Perdamaian harus menjadi harga mati yang tidak boleh ditawar lagi.

Belakangan ini, Islam menjadi agama yang berkembang paling pesat di Afrika, Asia, Eropa, dan Amerika. Dalam sejarahnya, belum pernah Islam bisa berkembang sepesat ini. Sementara itu, Barat juga semakin jeli dalam mengkaji Islam sebagai sebuah disiplin kajian. Jika hubungan antara Barat dengan Islam masih saja tidak terjembatani dan masih berbenturan oleh egoisme masing-masing, maka hal itu menjadi indikasi perang berkobar dan permusuhan abadi.

Jalan baru untuk membuka ruang perdamaian dunia memang harus segera dibangun. Citra Islam yang dianggap buruk oleh Barat harus segera diperbaiki. Sementara kebijakan Barat yang meluapkan sikap kemarahan dan kebencian terhadap Islam dan Muslim juga harus segera diredam.

Konflik antara Islam dengan Barat tidak boleh lagi dilanjutkan demi menempuh jalan baru untuk membuka ruang perdamaian dan saling memahami. Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, juga harus turut berpartisipasi aktif dalam membangun jembatan perdamaian, menegakkan kebenaran dan keadilan sebagai jalan baru, yang harus dilewati untuk menuju perdamaian dunia.

Akhirnya, dengan membaca buku yang berjudul Masa Depan Islam; Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat, para pembaca diajak untuk membuka mata terhadap permasalahan internasional yang menyangkut dengan semua masyarakat dunia. Prof. Esposito sebagai penulis telah menggambarkan sketsa permasalahan dengan jelas, sehingga pembaca bisa memaknai gagasan dan ide yang telah disampaikan oleh penulis dalam buku ini. [nu-online]

Judul Buku: Masa Depan Islam: Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat
Penulis: John L. Esposito
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Desember 2010
Tebal: 344 halaman
Peresensi: Supriyadi. Peresensi adalah santri senior di Pondok Pesantren Krapyak, Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta.

Artikel yang berhubungan dengan peristiwa 11 September 2001 (9/11)