Tag

, , , , ,

Tgk Muslim Ibrahim Salah satu upaya untuk mencegah pengaruh aliran sesat terhadap umat Islam adalah memperkuat pendidikan agama terutama kepada anak-anak dan generasi muda.

“Aksi penyebar aliran sesat saat ini memang membuat kita resah. Namun sebagai antisipasinya, yakni melalui peningkat an pendidikan agama yang benar kepada anak dan generasi muda Islam,” kata Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU/MUI) Aceh, Dr. Tgk. H Muslim Ibrahim, Rabu (6/3). 

Hal itu disampaikan setelah rapat pembahasan masalah aliran sesat yang mulai berkem bang di Aceh dengan Gubernur Irwandi Yusuf, yang dihadiri Kapolda Irjen (Pol) Iskandar Hasan, Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Adi Mulyono dan Kajati M Yusni.

Memperkuat pendidikan agama, misalnya dengan penambahan jam belajar agama di seko- lah-sekolah umum, serta menghidupkan kembali pengajian di meunasah (mushala) di kampung-kampung seluruh Aceh. Sementara terhadap orang-orang yang terpengaruh mengikuti aliran sesat, perlu dilakukan pertemuan dengan pendekatan dialog.

“Kalau ada di antara warga yang termasuk anggota aliran sesat, namun kadarnya tidak berat, maka cukup dengan disadarkan saja melalui beberapa kali pengajian yang sebenar- nya. Tentunya setelah yang bersangkutan menyatakan taubat kembali. Sebaliknya, jika keterlibatan seseorang dalam aliran sesat dengan tingkatan tertentu, maka harus disya-hadatkan kembali,” kata doktor lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir itu.

Pemerintah Aceh mensinyalir terdapat 17 organisasi yang diduga ikut menyebarkan aliran sesat di provinsi itu. Ketika ditanya penyebab yang melatarbelakangi berkembangnya aliran sesat di Aceh, Muslim Ibrahim mengakui ada beberapa faktor, namun kondisi itu diperparah setelah Aceh pasca tsunami.

“Kalau pendapat saya, aliran sesat itu berkembang dikarenakan Aceh yang begitu terbuka setelah musibah tsunami (26 Desember 2004). Pasca tsunami, banyak sekali orang dari berbagai belahan dunia masuk ke Aceh, sehingga keterbukaan itu dimanfaatkan untuk menyebarkan aliran sesat,” katanya.

MPU sudah memperkirakan masalah tersebut, sehingga lahirlah fatwa tentang kriteria aliran sesat pada 12 Desember 2007.

“Jadi bukan berarti aliran sesat berkembang itu dikarenakan Aceh menerapkan Syariat Islam, tapi disebabkan peluang terbukanya Aceh pascatsunami,” tegasnya. [republika]

Berita yang masih hangat tentang MPU Aceh dan Dr. Tgk H Muslim Ibrahim MA