Tag

, , , , , ,

film tanda tanyaKetua Umum GP Ansor NU, Nusron Wahid menyatakan, bahwa adegan film Tanda Tanya “?” yang menggambarkan Banser NU sebagai sebuah pekerjaan, dan sikap Banser yang menjadi provokator merupakan ketidaktahuan Hanung Bramantyo terhadap Banser.

“Ini merupakan kebodohan dan ketidaksempurnaan Hanung,” katanya di gedung PBNU, Kamis (7/4). 

Ia sangat menyayangkan, film yang memiliki gagasan bagus tentang pluralisme ini malah dinodai dengan isi yang malah menyinggung Banser, sehingga gagasan tersebut malah tidak mengena.

“Banser bukan pekerjaan, tapi pilihan pengabdian, karena tidak digaji, ini yang akan dikritisi,” jelasnya.

Salah satu adegang yang menggambarkan anggota Banser yang ikut merusak restoran China saat puasa juga tidak sesuai dengan sikap toleransi yang telah ditanamkan kepada para anggota Banser.

“Menjadi Banser itu berat, ada latihan fisik dan rohani, dan tidak semua orang bisa,” jelasnya.

Tetapi ia tidak meminta adanya penarikan film ini, karena dalam negara demokrasi, setiap orang berhak mengekpresikan pendapatnya. [nu-online]

Mendiskreditkan Sosok Banser

GP Ansor Nahdlatul Ulama Cabang Kota Surabaya juga mengecam penayangan film berjudul Tanda Tanya dengan sutradara Hanung Bramantyo, yang serentak diputar di bioskop-bioskop mulai Kamis (7/4), karena dinilai mendiskreditkan sosok Banser.

Sekretaris Satkorcab Banser Kota Surabaya, M Hasyim Asy’ari mengatakan, protes terse- but dilakukan karena dalam film tersebut Hanung menukil peran Soleh sebagai sosok Banser dengan beragam perannya sesuai fakta di masyarakat.

“Untuk mencegah peredaran film tersebut sangat tidak mungkin, lantaran besok (7/4) sudah mulai diputar,” katanya.

Dalam film tersebut, Banser versi Hanung digambarkan sebagai sosok yang mudah cemburu dan dangkal pengetahuannya.

Menurut dia, pihaknya sangat menyayangkan langkah Hanung yang tertutup dalam menggarap film dengan bahan mengambil kelompok-kelompok tertentu, tanpa penelitian yang mendalam. Sehingga hasilnya sangat dangkal dan bias.

”Mestinya, Hanung konfirmasi kepada tokoh-tokoh Banser sebelum membuat skenario,  sehingga tidak membuat ketersinggungan. Hanung sutradara top, namun pengetahuannya soal NU, terutama Banser, saya nilai nol besar. Terbukti sosok Banser yang dimunculkan sebagai tokoh sentral dalam filmnya justru mendiskreditkan Banser,” katanya.

Hasyim dan semua anggota Banser Surabaya Rabu lalu menggelar rapat karena adanya rencana pemutaran film tersebut, dan meminta masyarakat yang menyaksikan film itu untuk tidak menanggapi serius. Sebab, tidak semuanya yang dituangkan benar adanya.

”Saya yakin masyarakat sudah paham, siapa Hanung sebenarnya. Bahkan dalam film Sang Pencerah yang mengusung tokoh Muhammadiyah dia juga berusaha memunculkan orang NU di dalamnya, meski lagi-lagi tidak sesuai kepribadian orang Nahdliyin, itulah Hanung,” katanya.

Menurut Hasyim, Hanung harus meminta maaf kepada para tokoh Banser, sekaligus merevisi film tersebut.

”Banyak yang tidak terima penggunaan seragam Banser yang tanpa meminta izin itu,” kata dia. [kompas]

klarifikasi film tanda tanya

Yenny Wahid dan Hanung Bramantyo dalam Jumpa Pers

Berita yang masih hangat tentang Film “?”

Video Trailer Film “?” di YouTube