Tag

, , , , , , , , , , , ,

gus-mus-ingatkan-warga-nuWakil Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan kepada para pengurus NU DKI agar selalu ingat terhadap tiga pedoman, yaitu konun asasi, khittah NU dan 9 pedoman politik warga NU.

“Jika semua ini dijalankan, NU akan berjalan dengan baik seperti yang diharapkan,” katanya dalam acara konsolidasi pengurus NU se-DKI Jakarta, Sabtu (9/4). Tiga pedoman tersebut telah dimuat dalam satu buku kecil yang dibagikan pada para pengurus NU DKI. 
Dalam kesempatan tersebut Gus Mus menjelaskan mengapa NU ada, dan bagaimana seharusnya NU ke depan. Para ulama pendiri NU memiliki beberapa ciri. Dari aspek keilmuan, mereka memiliki mata rantai keilmuan sampai pada Rasulullah Saw, sehingga ilmunya bisa dipertanggungjawabkan.

Di kalangan pesantren, dikenal namanya ijazah, yang menunjukkan rantai keilmuan sebagai bentuk pertanggung jawaban intelektual. Hal ini berbeda dengan munculnya pesantren baru di perkotaan, yang belajarnya cukup dengan terjemahan, tetapi sudah merasa paling pandai dan paling benar, sehingga dakwahnya malah menyinggung kelompok lain.

Ciri kedua adalah, para kiai pendiri NU mencintai tanah airnya. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari ketika belajar di Mekkah, bersama dengan kawan-kawannya dari negara yang sama-sama terjajah, berdoa bersama-sama di Multazam, berdoa untuk kemerdekaan negara. “Perjuangannya dhohiran wa bathinan, berjuang secara lahir dan mendoakan,” tandasnya.

Tak heran, seorang wartawan Arab yang mengikuti revolusi di Indonesia menulis sebuah biografi bagi pendiri NU ini dengan judul, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “Maha Kiai, Hasyim Asy’ari, Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia”.

Orang NU, jelasnya adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan di Indonesia.

“Orang NU bukan turis. Ini yang membedakan orang NU dengan Azhari dan M Top. Indonesia hancur mereka tak peduli. Kiai Hasyim Asy’ari menyatakan wajib jihad kepada Belanda untuk membela tanah air,” jelasnya.

Ia menuturkan, dalam sebuah kunjungan ke Jepang, seorang petinggi pemerintah disana mengungkapkan keprihatinannya atas munculnya radikalisme yang ekstrim, baik atas nama agama atau yang datang dari Barat. Menurut mereka, sikap kemasyarakatan Islam tradisional merupakan jawaban terhadap masalah tersebut.

Ciri berikutnya, para pendiri NU adalah orang-orang yang melihat umat dengan mata kasih sayang. Mereka sangat tidak tahan melihat penderitaan ummat.

“Umat yang bodoh diajari, yang sesat ditunjukkan, bukan ditempeleng. Ndak ada model NU yang sesat terus disikat,” imbuhnya.

Bagi NU, hidup adalah proses, sebagaimana doa dalam sholat ihdinas sirothol mustakim, tunjukkan jalan yang benar.. yang sebenar-benarnya benar hanya Allah…. “Ahmadiyah tinggal sedikit jadi Islam sepenuhnya, kok malah dikejar-kejar,” tandasnya. [nu-online]