Tag

, , , , , , , ,

Yeni Wahid: Waspadai Ladang Rekrutmen TerorisDirektur Eksekutif The Wahid Institute Yenny Wahid menilai, kasus bom bunuh diri yang terjadi di Masjid Adz-Dzikro, Mapol resta Cirebon, Jumat (15/4) lalu, menjadi modus baru terorisme di Indonesia. Pasalnya, pelaku bom bunuh diri, Muhammad Syarif Astanagarif, selama ini tidak pernah terdeteksi sebagai bagian dari jaringan teroris.

“Dia mungkin lebih terdeteksi ke jaringan-jaringan yang mung- kin radikal, tetapi tidak menggunakan medium seperti bom,” ujar Yenny di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa (19/4).

Yenny menambahkan, dalam kasus tersebut terlihat bahwa saat ini telah terjadi persing- gungan antara kelompok lama dan kelompok baru pelaku terorisme. Hal itu dapat disebab kan karena munculnya ladang perekrutan bagi kelompok-kelompok yang berakidahkan kekerasan.

“Hal itu menunjukan sekarang sudah ada persinggungan antara dua kelompok tersebut. Ini bahaya sekali, karena sekarang sudah ada titik persinggungannya,” jelasnya.

Untuk itu, ia menyarankan agar pemerintah dapat lebih waspada terhadap kasus seperti itu. Jika dibiarkan terus-menerus, hal ini akan membuat stigma Islam menjadi buruk di mata masyarakat Indonesia.

“Nah, jika ini dibiarkan nanti, ladang rekrutmennya itu dapat menjadi semakin besar. Inilah yang harus diantisipasi oleh pemerintah,” pungkasnya.  [kompas]

Muhammad Syarif Astanagarif Pemain Baru

Pihak kepolisian akhirnya memastikan Muhammad Syarif Astanagarif sebagai pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro, kompleks Markas Kepolisian Resor Kota Cirebon, Jawa Barat. Polisi juga menyebut dia pemain baru terkait dengan dugaan tindak pidana terorisme.

”Dari hasil pemeriksaan DNA disimpulkan, telah dapat dibuktikan secara ilmiah dan tidak terbantahkan bahwa identitas jenazah Mr X selaku pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikro, Polresta Cirebon, adalah Muhammad Syarif Astanagarif, umur 32 tahun,” kata Kepala Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Negara RI Brigjen (Pol) Musaddeq kepada pers di Jakarta, Senin (18/4).

Dalam konferensi itu, Musaddeq didampingi Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam dan Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Irjen Mathius Salempang.

Anton menambahkan, Muhammad Syarif (MS) adalah anak kandung Ratu Srimulat dan Abdul Gofur yang beralamat di Plered, Cirebon.

Musaddeq menjelaskan, dalam identifikasi pelaku bom bunuh diri ada tiga alat ukur identifikasi primer yang mutlak, yaitu sidik jari, data gigi, dan DNA. ”Tiga-tiganya cocok. Sidik jari identik. Data gigi diakui oleh keluarga. Dari DNA, kita bisa membuktikan bahwa Mr X adalah Muhammad Syarif,” katanya.

Mengenai lambatnya pemeriksaan DNA, Musaddeq menyatakan bahwa pihaknya belum punya basis data Syarif yang diketahui sebagai pemain baru dalam tindak pidana terorisme.

Mengenai dari kelompok mana Syarif, Mathius Salempang belum dapat memastikan. Akan tetapi, Syarif diduga pernah terlibat dalam kasus perusakan Alfamart di Cirebon.

”Sebagai gambaran, Polresta Cirebon pernah menangani kasus perusakan Alfamart oleh kelompok tertentu. Ada 11 tersangka. Enam orang sudah diproses, bahkan ada yang sudah keluar dari tahanan,” katanya. Salah seorang dari lima tersangka yang dinyatakan buron itu adalah Muhammad Syarif.

Sampai saat ini, kata Mathius, pihak Detasemen Khusus 88 masih mendalami motif dan latar belakang pelaku bom bunuh diri tersebut.

Mengenai bahan-bahan yang terkandung dalam bom, Mathius secara terpisah menyatakan, petugas laboratorium forensik menemukan potasium nitrat, aluminium, dan sulfur dari sisa bom.

Siapa Syarif

Di Cirebon ayah Syarif, Abdul Gofur menyatakan, anaknya mulai bersikap aneh sejak 2009. Pada tahun itulah Syarif mulai belajar Islam garis keras, yang ditentang oleh keluarganya.

”Sebelumnya, Syarif itu baik dan tidak pernah melawan orangtua. Namun, sejak tahun 2009, banyak hal berubah, terutama soal pemahaman agamanya. Ia menjadi sangat keras soal akidah,” kata Gofur yang ditemui di Masjid Kanoman, Cirebon.

Sejak 2002, Syarif tidak lagi tinggal serumah dengan keluarganya di Jalan Astana Garip, RT 3 RW 6, Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Cirebon.

Sejak Syarif berpindah rumah, orang tuanya kurang mengetahui kegiatan pemuda jangkung ini. Pertemuan terakhir dengan Syarif ialah pada acara pernikahannya, Agustus 2010.

Saat pernikahan, Gofur sempat melihat 15 kawan Syarif mengenakan jubah hitam. Seusai upacara, mereka berpamitan kembali ke Ciamis untuk mengikuti sebuah pengajian. ”Di saat yang sama ada pengajian oleh ustadz yang ditangkap itu,” ujar Gofur. [kompas]

Berita yang masih hangat tentang M Syarif pelaku bom bunuh diri Cirebon