Tag

, , , , , , , , , , , , , , ,

Kiai Said - NU Tetap Komitmen dengan PancasilaNahdlatul Ulama (NU) menegaskan, tetap berkomitmen menjaga Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai ideologi negara. Untuk itu, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia ini akan terus memperjuangkan terwujudnya masyarakat Islam yang moderat dan toleran.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengatakan, bahwa NU siap berhadapan dengan kelompok mana pun yang mengancam keutuhan Indonesia.

Perjuangan mewujudkan masyarakat Islam yang toleran dan moderat justru lebih sulit dibandingkan menjadikan mereka terlalu radikal terhadap aliran mana pun.

”Kami menjaga agar masyarakat supaya toleran, moderat. Itu yang berat. Tetapi, kami menginginkan masyarakat seperti itu. Kalau membiarkan masyarakat menjadi ekstrem kanan atau kiri, jadi ateis sekalipun, atau ekstrem kanan yang selalu teriak-teriak Allahu Akbar, itu gampang. Yang sulit itu, bagaimana mewujudkan masyarakat supaya bisa tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuf (toleran). Itu yang berat,” kata Kiai Said, Jumat (22/4) di Jakarta.

Sebagian kelompok yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia justru salah memahami apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.

”Nabi Muhammad tidak pernah memproklamasikan negara Islam dan negara Arab. Namun, negara Madinah, maknanya kan beradab, madani. Di situ masyarakatnya solid, lintas agama, lintas etnis. Tidak pernah Nabi Muhammad mengatakan negara Islam,” ujar Kiai Said.

NU, sebelum resmi merdeka, bahkan telah meyakini bahwa Indonesia bukan negara Islam.

”Dalam Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin, menurut NU, Indonesia itu negara darussalam, negara damai, bukan darul Islam, negara Islam. Itu sembilan tahun sebelum Indonesia merdeka,” katanya.

Komitmen itulah yang akan terus dijaga oleh NU sampai kapan pun.

”Kalau kami sudah komitmen, negara kita negara kebangsaan, negara Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, itu terus kami pertahankan. Kita ini kan tinggal melanjutkan, mewarisi. Dulu yang berkorban antara lain Soekarno-Hatta, Agus Salim, Muhammad Yamin, dan Wahid Hasyim. Yang memperjuangkan beliau-beliau itu, anak kemarin kok ingin mengubahnya. Baru lahir kemarin mau mengubah yang sudah dibangun kakek dan leluhur kita, yang sudah kita yakini mereka juga melalui proses berpikir dan orientasi yang panjang,” kata Kiai Said. [nu-online]

Artikel yang masih hangat tentang Negara Pancasila

patung proklamator sukarno hatta di tugu pahlawan