Tag

, , , ,

Gus-Dur-ekonomi-kerakyatanMantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat berjasa mengangkat ekonomi warga NU dengan gagasan-gagasan yang dirintisnya. Namun tidak banyak pihak yang mengkaji peran pemberdayaan ekonomi yang dilakukan Gus Dur selama menjabat tiga periode ketua umum PBNU.

Demikian diungkapkan Peneliti The Wahid Institue, Nurun Nisa’, dalam diskusi kelompok kajian “Epistemologi Gus Dur”, Senin (25/04), di Kantor The Wahid Institute. 

Menurut Nisa, Gus Dur selalu berupaya mengerem laju konglomerasi dan kebijakan ekonomi Orde Baru yang sangat berorientasi pada kepentingan kelas pemodal.

“Selama menakhodai NU, Gus Dur telah melakukan langkah-langkah gebrakan dalam bidang ekonomi dengan mendirikan BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Nusumma, bekerja sama dengan Bank Summa milik pengusaha Edward Soeryadjaya,” tutur Nisa, yang menjadi pemateri dalam diskusi bertema “Gus Dur dan Perannya dalam Pemberdayaan Ekonomi Ke-NU-an” ini.

Visi di balik pemikiran Gus Dur, menurut Nisa’, adalah ekonomi kerakyatan, yaitu orientasi ekonomi yang memihak pengusaha gurem dan rakyat lemah. Namun cita-cita Gus Dur memang tidak 100% berhasil. Dari 2000 BPR yang direncanakan, baru terealisir belasan saja.

“Jasa Gus Dur yang lain adalah membentuk Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia). Lembaga ini dirancang untuk merintis berbagai percontohan pengembangan ekonomi dan merangsang iklim kewirausahaan di kalangan warga NU,” tandasnya.

Saiful Arif, peneliti dari Pesantren Ciganjur menyatakan, di bawah tekanan hegemonik Orde Baru, kerja-kerja pemberdayaan Gus Dur di NU memang menemui kesulitan berarti.

“Pemikiran ekonomi Gus Dur tergolong visioner pada masanya. Pemikiran ekonomi Gus Dur merupakan kritik terhadap ekonomi pembangunan yang terlalu berkiblat pada pertumbuhan, dan bukan keadilan dan pemerataan,” tutur Arif. [nu-online]

Artikel dan berita yang masih hangat tentang ekonomi kerakyatan