Tag

, , , , , , , , , , , ,

Seolah Terkubur Nama Besar Ayah dan AnaknyaNama KHA Wahid Hasyim seolah kalah tenar dibanding nama ayahnya, yakni KH Hasyim Asy’arie, atau anaknya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tapi, Wahid Hasyim juga seorang tokoh besar, yang jejak-jejak pemikirannya masih relevan dengan zaman sekarang.

Usianya relatif masih muda saat Sang Khalik memanggil KH Abdul Wahid Hasyim selama-lamanya, yakni 39 tahun. Meski begitu, sosok yang menjunjung tinggi demokratisasi itu meninggalkan pemikiran yang mampu menumbuh- kembangkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa. 

Sayang, hanya sedikit referensi yang menyebutkan tentang pahlawan nasional salah satu pendiri NKRI itu. Padahal, pemikiran dan ide-ide Wahid Hasyim masih tetap relevan dengan kondisi saat ini. Setidaknya dengan mengikuti pemikiran dan wacana ayah mendiang Abdurrahman Wahid itu, masalah bangsa saat ini, seperti perbedaan antar agama, bisa terpecahkan. Tentu saja dengan cara kembali ke khittah saat pembentukan NKRI.

Semangat itulah yang dibawa dalam bedah buku berjudul: “KHA Wahid Hasyim: Sejarah, Pemikiran, dan Dharma Baktinya bagi Agama dan Bangsa” di auditorium Kahar Muzakir Universitas Islam Indonesia (UII), Jalan Kaliurang Km 14,5, Sabtu lalu.

Hadir sebagai panelis dalam bedah buku tersebut adalah Direktur Diktis Kemenag RI Prof. Dr. Machasin dan putra-putri Wahid Hasyim, yakni Lily Chadidjah Wahid dan KH Sholah- uddin Wahid. Sebagai moderator adalah Alissa Qatrunnada Abdurrahman Wahid, putri KH Abdurrahman Wahid.

Dalam buku berwarna biru setebal 418 halaman itu, KH Sholahuddin Wahid menyebut nama KH Abdul Wahid Hasyim seolah terkubur oleh nama besar ayahnya KH Hasyim Asy’ari dan putranya KH Abdurrahman Wahid.

’’Mbah Hasyim dan Gus Dur memang tokoh besar, tetapi Kiai Wahid juga tokoh besar yang perlu kita ketahui perjuangannya untuk bisa diteladani,’’ tulis Gus Sholah, sapaan akrab Sholahuddin Wahid.

Di mata adik Gus Dur itu, Wahid Hasyim adalah seorang tokoh NU dari jenis yang tidak banyak bisa ditemukan. Yaitu, jenis pemimpin organisatoris, pekerja. Bukan pembicara.

’’Wahid Hasyim adalah jenis man of action, bukan man of ideas,’’ katanya.

Penanggung jawab acara Lily Chadidjah Wahid menuturkan, saat ini masih banyak pemikiran Wahid Hasyim yang masih relevan untuk menyelesaikan masalah bangsa, khususnya perbedaan agama. Salah satu pemikirannya dalam sila I Pancasila yang semula berbunyi ’’kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’’ diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

’’Artinya, paling penting adalah persatuan. Kalau ada orang Islam yang perlakukan umat nonmuslim semena-mena, itu sama sekali tak tahu cikal bakal terbentuknya NKRI,’’
tegas Lily Wahid.

Kembali pada pemikiran para pendiri bangsa, menurut Lily, masalah polemik keagamaan yang marak terjadi di Indonesia akan bisa teratasi. Lily mengatakan, Wahid Hasyim lebih mengutamakan kesatuan daripada perbedaan.

Dia mencontohkan, dalam wacananya, sebagai pendidik, Wahid Hasyim meletakkan dasar secara inklusif, bukan eksklusif.  Dasar itu jugalah yang diletakkan Wahid Hasyim saat menjabat sebagai menteri agama selama tiga tahun berturut-turut.

’’Agama dikaitkan dengan dunia pendidikan akan menghasilkan orang-orang dengan pemikiran agamis, didukung rasa nasionalisme yang kuat. Itulah arah wacana KH Abdul Wahid Hasyim,’’ terang Liliy.

Liliy berharap pemikiran dan ide-ide Wahid Hasyim yang masih relevan ini bisa menjadi solusi alternatif bagi pemerintah untuk menyelesaikan polemik bangsa.

“Ibaratnya kita itu harus refreshing dengan kembali mengingat masa lalu sesuai khittah,” imbuh adik Gus Dur itu.

Editor sekaligus Sekretaris Panitia Pusat Bedah Buku Shofiyullah menuturkan, Wahid Hasyim merupakan sosok yang sangat menjunjung tinggi demokratisasi. Oleh sebab itu dalam perumusan sila I Pancasila pun, Wahid Hasyim harus terlibat berdebatan panjang dengan ayahnya sendiri, KH Hasyim Asy’ari.

Shofiyullah mengatakan, sila pertama Pancasila awalnya terdiri dari 7 kata. Yakni kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Pemikiran Wahid Hasyimlah yang akhirnya disepakati dengan kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Kalimat itu muncul atas dasar keberagaman masyarakat Indonesia yang heterogen, bukan homogen,” terang dosen UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta itu.

Shofiyullah mengatakan, jika tujuh kata awal rumusan sila I dipaksakan, maka menurut Wahid Hasyim akan menimbulkan rongrongan dari elemen minoritas selain Islam. Sebab, NKRI dibentuk oleh orang-orang yang tidak semuanya beragama Islam.

Pikiran dan gagasan mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini di antaranya di bidang agama, politik, kebangsaan, dan pendidikan.

“Di bidang pendidikan, Wahid Hasyim mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang di kemudian hari menjadi universitas bernama Universitas Islam Indonesia (UII),” katanya. [radarjogja]

Artikel terkait :