Tag

, , , , , , , ,

Habib Lutfi: Kita Wajib Pertahankan NKRIAcara puncak dalam peringatan haul ke-208 Raden Patah diisi dengan adalah mau’idhotul hasanah oleh dua ulama kharismatik di Jawa Tengah, yaitu KH Zuhrul Anam, Lc dari Purwokerto dan Habib Lutfi dari Pekalongan.

Dalam nasehatnya Kiai Zuhrul Anam yang jadi menantu KH Maemun Zubaer pengasuh PP Al Anwar Sarang Rembang, menyebutkan bahwa dengan memperingati haul lebih dapat mengingatkan kita tentang hakikat dari hidup. Hidup, bukan untuk hari ini, tetapi hidup untuk masa depan (akhirat).

“Hidup kita yang sebentar ini akan menjadi sia-sia jika tidak sepenuhnya ta’dzim kepada perintah-perintah Allah. Dengan mengikuti haul kita seolah-olah diingatkan kembali oleh Allah Swt, agar senantiasa mendekatkan diri kepadanya,” demikian nasehatnya.

Kiai Zuhrul Anam dengan logat ngapaknya menyampaikan, bahwa dengan berkumpul bersama orang-orang sholeh, kiai, dan para auliya, semoga memudahkan bagi kita untuk bersama-sama beliau kelak di akhirat dan bersama-sama masuk surganya Allah, yang lantas diamini oleh ribuan jamaah yang hadir.

Sementara itu, dalam nasehatnya Habib Lutfi bin Yahya menyampaikan tentang sejarah perjuangan Sultan Fatah serta silsilah kewalian beliau. Menurut Habib Lutfi, Walisongo merupakan lembaga bukan personal, artinya setiap ada wali yang meninggal diantara Wali Songo langsung diganti oleh wali selanjutnya. Menurutnya, hingga saat ini Walisongo tetap ada, tetapi tidak disebutkannya.

“Kita hanya mengenal Sultan Fatah sebagai Sultan semata, padahal sesungguhnya Raden Fatah merupakan sosok ulama besar, bahkan termasuk waliyullah pada masanya,” katanya.

Termasuk pula Pangeran Sentot Prawirodirjo dan Pangeran Diponegoro, kedua pahlawan nasional tersebut selain sebagai tokoh politik juga merupakan Mursyid Thoriqoh yang masyhur. Sorban Pangeran Diponegoro, merupakan simbolisasi dari seorang Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsabandiyah. Tetapi terkadang kita mengenalnya hanya sebagai pahlawan semata.

Oleh karena itu, menurut Habib Lutfi kita harus mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena yang memperjuangkan bangsa ini adalah para ulama, kiai-kiai, dan pejuang muslim yang tak sempat dianugrahi bintang gerilnya.

“Maka jika ada kelompok-kelompok yang hendak menggerogoti Kesatuan bangsa ini, mereka adalah orang-orang yang tidak tahu sejarah. Sekali lagi wajib hukumnya bagi kita untuk menjaga keutuhan negera ini dari rongrongan sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab, setuju” demikian nasehatnya. [nu-online]

Berita dan artikel yang masih hangat tentang Wali