Tag

, , , , , , , ,

masjid muhammad philadelphiaMendengarkan laporan FBI, Anda akan tahu bahwa kejahatan kekerasan turun di hampir seluruh negeri paman Sam tahun lalu. Namun dengarkan orang-orang di beberapa bagian Philadelphia, dan Anda akan tahu bahwa wilayah ini bukan bagian dari trend itu. Angka kejahatan justru terus mendaki. Kekerasan di jalanan umum dijumpai.

“Di sini itu tidak setiap bagian aman untuk berjalan. Seseorang bisa datang pada Anda dan mulai menembak Anda tanpa alasan,” kata seorang remaja.

Itulah sebabnya Imam Suetwidien Muhammad membuat terobosan dalam metode dakwah: menawarkan kursus bela diri gratis. Ia merekrut beberapa orang pelatih untuk mengajar anak-anak muda di halaman masjid agar bisa membela diri dari para penjahat.

“Ketika saya datang di lingkungan ini, rata-rata pembunuhan terjadi 6 bulan sekali. Banyak kekerasan kami temukan di jalanan. Kami bersumpah untuk membawa peru- bahan,” katanya sambil duduk di bawah sinar matahari pagi, di tangga sebuah bekas gudang pipa yang kini disulap menjadi masjid.

Jadi ia mulai melakukan kursus bela diri gratis di Masjid Muhammad Philadelphia, sebuah masjid di gudang kumuh tua. Seiring waktu, jumlah jamaah juga kian bertambah. Kini, mereka memiliki 500 jamaah aktif.

Mereka juga bahu-membahu memperbaiki kondisi masjid. Bahkan secara berkelakar, jamaah berkata tempat itu terus-menerus berbau cat segar, karena imam selalu sibuk memperbaiki atau meningkatkan sesuatu.

Aneka kursus bela diri diajarkan. Di atas ruang ibadah, sebuah gym tinju disediakan. Kaum muda di wilayah itu, Muslim atau bukan, datang setiap hari untuk berlatih. Adanyal sasana tinju itu memang masih menuai pro-kontra, bahkan dari jamaah sendiri.

“Muslim tidak seharusnya terlibat dalam tinju. Yang lain berkata, Anda tidak seharusnya memukul seseorang di wajah,” kata Muhammad.

Dia menyatakan, sasana itu pernah didatangi salah satu Muslim yang juga petinju paling terkenal di dunia: Muhammad Ali. “Saya tidak melihat seperti itu (kekerasan), dan aku tahu kekerasan yang sebenarnya ada pada senjata, yang kini bebas dijualbelikan.”

Di sasana itulah anak-anak muda lintas agama di Philadelphia tidak hanya belajar tentang tinju. Imam Muhammad berbicara tanpa henti tentang disiplin, saling menghormati, pendidikan dan komitmen. Dan juga mendidik anak-anak muda itu agar kelak menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.

“Kami tidak punya banyak waktu untuk mencetak sampah. Ketika Anda datang ke tempat latihan ini, di sinilah dimulai hal-hal yang serius. Komitmen mereka untuk menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, semua dimulai di sini,” katanya.

Seorang anak muda mengaku manfaat mengikuti aneka kursus di sasana. “Tanpa berlatih di sini, saya mungkin kehilangan 3 kali dan mungkin dirampok 5 kali,” katanya dengan senyum lebar.

Philadelphia sendiri memiliki warisan sejarah tinju sejak tahun 1800-an.  Juara dunia tinju seperti Sonny Liston, Rocky Balboa dan Joe Frazier, berasal dari kota ini. Tapi klub-klub tinju itu umumnya tertutup dan berbiaya mahal. [republika]

Berita dan artikel terkait metode dakwah