Tag

, , , , , , , , , ,

habib syech sholawat untuk negeri yang damaiKetika syair “Sholatun bi salamil mubin” didendangkan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, sekitar 20 ribur orang lebih seren- tak mengikuti alunan syairnya. Halaman Masjid Agung, alun-alun Kota Magelang men jadi lautan manusia yang berbaju putih.

Habib Syeh mengangkat tangannya, tanpa dikomando para Syechkres (pecinta shola- wat Habib Syech) dan para jamaah majelis ta’alim Magelang Bersholawat menirukannya 

Sholatun bi salamil mubini linuqhotit ta’yii ni ya ghoroomii. Nabiyyuna kaana ashlattak wiini min ahdi kun fayakuunu yaa ghoroomii.”

Yang maknanya kurang lebihnya begini, “Shalawat serta salam kupersembahkan kepada mu wahai kekasihku. Sebagai bukti keteguhanku, wahai Nabi Muhammad SAW (kekasih- ku).”

Seraya melantunkan syair itu, bendera warna-warna dikibarkan. Bendera yang dikibarkan para jamaah antara lain bendera merah putih, NU, Syechkres, OI (orang Indonesia), Mu- hammadiyah, kelompok pengajian, bendera bertuliskan Allah dan Muhammad Saw. Me- rah, biru, putih, kuning, ungu bendera yang mereka kibarkan, perbedaanitu tak menjadi sebuah perpecahan. Semua larut dalam kebersamaan, satu hati mendendangkan syair- syair kecintaan dan kerinduan umat manusia kepada Rasulullah Saw.

Sepanjang acara, bendera-bendera itu tak pernah berhenti, terus bergerak dikibarkan seperti menjadi sebuah semangat untuk mencintai Rasulullah Saw, Indonesia dan sesama manusia. Anak-anak, remaja dan orang tua mendendangkan shalawat untuk keselamatan dunia dan akhirat. Sesuai dengan tema malam itu yakni, Magelang Bersholawat Doa untuk Kedamaian dan Keselamatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Di sela-sela bersholawat Habib Syech juga memberikan uraian hikmah. Dia mengajak selu ruh umat manusia untuk intropeksi diri, jadilah seperti akar. Karena akar adalah unsur pohon yang memiliki ketulusan dalam menjalani mata rantainya. Meski akhirnya yang mendapatkan sanjungan adalah buah dari pohon itu.

“Menirulah Rasulullah Saw meski berbeda keyakinan dan agama beliau menghormati me- reka. Bahkan Beliau mendoakan mereka yang bersebrangan dan memusuhinya,” katanya.

Menurutnya, hal yang paling sederhana mudah dilakukan adalah senyum dan mengulur kan tangan untuk berjabat tangan sembari mengucapkan salam. Jangan sampai kalah dengan semut, setiap kali berpapasan dengan temannya selalu bersalamanan.

Tapi akhir-akhir ini, di negeri ini ada juga kelompok yang tak mau diajak berjabat tangan. Mereka menganggap orang Islam yang bukan kelompoknya adalah musuh, apalagi meman dang orang yang beda keyakinan dan agama.

Menurutnya, jadi orang yang hidup di Indonesia tak boleh melupakan jasa para pahlawan nya. Mereka tanpa pamrih berjuang hingga mati di medan tempur, mereka tak ingin mendapatkan gelar atau penghormatan. Tapi ingin apa yang diperjuangkannya untuk kesatuan NKRI.

“Marilah kita jaga negeri ini dengan penuh cinta. Ungkapan cinta kepada Rasul dan negara. Sehingga ada keteguhan batin hidup damai berdampingan,” ujarnya, Sabtu (28/5).

Seusai tauziah Habib Syech mengajak para jamaah untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dia sendiri yang memberi aba-aba dan memimpin prosesi menyanyikan lagu kebang saan itu. Sebagai syair penutup, dia mendendang Ya Hanana dan diakhiri doa.

KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dalam tausiahnya mengatakan, bahwa Mage lang Bersholawat sebagai media silaturahmi untuk merekatkan persatuan umat. Melalui sholawat kehidupan di jalani dengan damai dan selalu menebarkan cinta kepada setiap orang seperti yang dilakukan Rasulullah Saw. [nu-online]

Artikel terkait tentang Sholawat