Tag

, , , , , , , , , , , , , , ,

tragedi setengah biji buah apple jatuh di tepi jalanPada awalnya adalah sebiji buah apel jatuh …

Sinar matahari masih terik ketika seorang lelaki yang sholeh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh keluar pagar sebuah kebun buah yang subur. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah, membuat air liur Tsabit terbit, apalagi di hari yang panas dan tengah kehausan. Maka tanpa berfikir panjang dipungut dan dimakanlah buah apel yang lezat itu. Akan tetapi baru saja habis setengahnya, dia teringat bahwa buah apel itu bukanlah miliknya, dan dia belum pula mendapat izin pemiliknya.

Maka ia segera masuk ke dalam kebun itu untuk menemui pemiliknya, agar dihalalkan buah yang telah dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki, maka langsung saja dia berkata, “Pak, aku menemukan apel ini tergeletak di tepi jalan. Dan aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkannya.”

Orang itu menjawab, “Aku bukanlah pemilik kebun ini. Aku hanyalah pekerja yang ditugaskan menjaga dan mengurus kebun ini.”

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimanakah rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya, dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.”

Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana, maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam.”

Tsabit bin Ibrahim yang sudah bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu, bertanya lagi alamat pemilik kebun apel itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku, karena tanpa izin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw. sudah memberi peringatan melalui sabdanya:

Siapa yang di tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.”

Tsabit lalu pergi ke rumah pemilik kebun itu. Setiba di sana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu?”

Lelaki tua itu sangat heran melihat kejujuran pemuda tampan yang menjadi tamunya ini. Seumur hidupnya tidak pernah menemui pemuda yang mau berjalan sehari semalam hanya untuk minta label halal bagi apel yang dipungut di tepi jalan. Ini penemuan yang luar biasa dan amat langka. Maka dia tak ingin melepaskannya begitu saja. Lalu dengan tegas dia berkata, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkan- nya, kecuali dengan satu syarat.”

Tsabit merasa khawatir dengan adanya syarat itu, karena takut dia tidak dapat memenuhinya. Namun dia lebih takut siksaan di akhirat daripada masuk bui. Maka segera saja dia bertanya, “Apa syarat itu tuan?”

Kejutan pertama menghantam dada Tsabit, ketika orang itu menjawab, “Engkau harus menikahi putriku!”

Dheggg … Dada Tsabit bin Ibrahim langsung berdetak dengan kerasnya. Dia tidak bisa memahami jalan pikiran lelaki yang berwajah tenang dan berwibawa itu. Maka dia bertanya lagi, “Apakah hanya karena memakan setengah biji buah apel yang keluar dari kebunmu itu, aku harus menikahi putrimu?”

Pemilik kebun itu seolah tidak peduli protes Tsabit. Ia bahkan menambahkan, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang yang lumpuh!”

Tsabit amat terkejut mendengar deskripsi si calon isteri, ini benar-benar terlalu. Bahkan dia sempat berfikir, ini sebuah tragedi! Apakah perempuan seperti itu patut dipersunting sebagai isteri hanya gara-gara makan setengah biji buah apel yang tidak halal? Mungkin lebih baik sebulan masuk tahanan polisi, daripada menderita seumur hidup dengan istri yang terpaksa dinikahi!

Melihat kebimbangan Tsabit, si pemilik kebun itu terus menekan lagi, dengan menyerang sisi keimanan Tsabit, “Bila kamu tidak mau memenuhi syarat itu, maka aku tidak akan menghalalkan apa yang telah kau makan!”

Hati Tsabit telah mantap, dia tidak ingin masuk neraka hanya karena memakan setengah biji buah apel yang tidak halal. Apa pun resikonya, ia ingin menebus dan menanggungnya di dunia saja. Agar tidak menjadi beban di akhirat nanti.

“Baiklah, aku akan menerima pinangan dan pernikahannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi hak dan kewajibanku kepadanya. Karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku. Dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan amal kebaikanku di sisi Allah Ta’ala,” jawab Tsabit.

Maka pernikahan Tsabit pun langsung dilaksanakan hari itu juga. Si pemilik kebun segera menghadirkan 2 orang saksi yang akan menyaksikan proses akad nikah mereka, yang dilangsungkannya secara cepat dan sesuai syariat. Sesudah akad nikah selesai, Tsabit pun langsung dipersilahkan masuk untuk menemui isterinya.

Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berfikir akan tetap memberi salam walau pun isterinya tuli dan bisu. Karena, bukankah malaikat Allah yang berkeliaran di dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka ia pun mengucapkan salam, “Salamun ‘alaikum.

Sebuah kejutan hebat terjadi lagi bagi Tsabit yang ‘alim. Tidak disangkanya sama sekali, wanita muda yang ada di hadapannya, dan sudah resmi jadi isterinya itu menjawab salamnya dengan baik, “Salamun ‘alaikum bima shobartum.”

Hari ini memang penuh kejutan. Ketika Tsabit hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut, karena wanita yang baru saja menjadi isterinya itu menyambut uluran tangannya!

Tsabit sempat terhenyak sejenak dengan kenyataan ini. “Lho, kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu, tetapi ternyata dia menyambut salam dengan baik. Jika demikian berarti dia dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh, tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah, dan mengulurkan tangannya dengan mesra pula,” kata Tsabit dalam hatinya yang terus berdebar-debar menerima kejutan yang bertubi-tubi ini.

Tsabit berfikir, mengapa mertuanya menyampaikan ‘berita’ yang bertentangan dengan fakta? Tak tahan dengan berbagai misteri yang dihadapinya, segera setelah Tsabit duduk di samping isterinya, dia langsung bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau wanita yang buta. Mengapa?”

Wanita cantik itu dengan senyum simpul dan sabar menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”.

Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli, mengapa?”

Masih dengan tersenyum manis wanita muda itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayah juga mengatakan kepadamu, bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” tanya wanita itu seolah mendahului keheranan Tsabit.

Karena masih diliputi rasa takjub, Tsabit hanya bisa mengangguk perlahan, membenarkan pertanyaan isterinya. Wanita itu lalu menjelaskan, “Aku dikatakan bisu, karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh, karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat maksiat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala.”

Tsabit amat bahagia mendapatkan isteri yang ternyata amat sholihah, dan wanita yang mampu memelihara dirinya. Dengan bangga dia berkata tentang isterinya, “Ketika kulihat wajahnya … Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap gulita.”

Keluarga Tsabit bin Ibrahim dan isterinya yang sholihah dan cantik itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka mendapat karunia seorang putra, yang ilmunya memancarkan hikmah ke seluruh penjuru dunia. Beliau adalah Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit. (Disadur dari 1001 Kisah Teladan)

Orang yang Selamat dan Sejahtera di Akhir Nanti

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun ‘alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-An’aam, 6:54)

“Maka adakah orang yang mengetahui, bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (QS Ar-Ra’d, 13:19)

“(yaitu) orang yang memenuhi janji Allah, dan tidak melanggar perjanjian.” (QS Ar-Ra’d, 13:20)

“dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah, agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhan-nya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS Ar-Ra’d, 13:21)

“Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhan-nya, melaksanakan shalat, dan menginfakkan (sedekah/zakat) sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, baik secara tersembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS Ar-Ra’d, 13:22)

“(yaitu) surga Ad’n, mereka masuk ke dalamnya bersama orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya. Sedang para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu.” (QS Ar-Ra’d, 13:23)

“Sambil mengucapkan: “Salamun ‘alaikum bima shobartum” (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS Ar-Ra’d, 13:24)

Baca juga kisah-kisah di blog tetangga