Tag

, , , , ,

gus mus ingatkan warga nu agar berikan teladan yang baikTampaknya para tokoh agama sekarang banyak yang tidak meniru Rasulullah Saw. dalam berdakwah. Kalau Nabi Muhammad Saw. mengajak berbuat kebaikan, maka ia sendiri menyontohkan. Memberikan teladan. Sedangkan orang sekarang menyuruh umat untuk menjadi dermawan, tapi dia sendiri pelitnya tidak karuan. Justru yang bisa meniru Kanjeng Nabi, kata Gus Mus, adalah Soeharto (alm).

“Pak Harto mengajak rakyat kaya, dia sendiri kaya. Mengajak meniru orang Barat yang kapitalis, dia menjadi kapitalis duluan,” tutur KH Mustofa Bisri dengan nada canda, dalam Dialog Merajut Nilai Kebangsaan. Acara itu digelar untuk memperingati 56 Tahun Yayasan Buddhagaya & Hari Sumpah Pemuda, di Ruang Serba Guna Vihara Jl Perintis Kemerdekaan Watungong, Semarang, Ahad lalu.

Acara itu dihadiri seribuan orang tokoh dan umat berbagai agama, kepercayaan, etnis dan golongan. Juga dihadiri Wakil Walikota Semarang Hendrar Prihadi, pejabat Kanwil Kementrian Agama Jawa Tengah dan aktivis seni budaya serta para mahasiswa.

Kiai yang dikenal sebagai seniman dan budayawan ini mengatakan, umat manusia sudah dari sononya  bermacam-macam. Andai Tuhan menghendaki, mudah saja Tuhan membuat semua manusia sama. Tetapi Tuhan sengaja membuat umatnya seperti gado-gado.

Masalahnya, sejak Soeharto mengambil alih kekuasaan, berbagai bahan gado-gado itu diblender. Dipaksa seragam. Sampai suatu masa, pada 1997, seluruh benda harus berwarna kuning, termasuk masjid.

Akibat dari itu, rakyat Indonesia tak terbiasa berbeda. Karena terdidik demikian, orang jadi benci perbedaan. Yang tidak sama diharamkan atau dianggap musykil. Inilah yang belakangan melahirkan gerakan radikal dan semacamnya.

“Kita terlalu lama diajari Pak Harto tidak boleh berbeda. Sehingga kita tidak siap dengan ketidakseragaman. Padahal dari sononya kita itu dikehendaki Tuhan beraneka rupa,” tutur kyai yang akrab disapa Gus Mus ini.

Para pejabat pemerintah semasa Soeharto berkuasa, selalu menggembar-gemborkan Pancasila, tetapi tidak pernah menguraikan isi lima sila itu. Pancasila dikorupsi, P4 juga dikorupsi, tak pernah dibabarkan isinya.

Sehingga orang bisa lupa dasar negara dan falsafah hidup bangsa Indonesia itu. Apalagi setelah Pancasila dijadikan alat represi politik. Siapa pun yang tidak disukai langsung dituding anti Pancasila lantas ditangkap atau disingkirkan.

“Para pejabat dulu mengorupsi Pancasila. Lalu menjadikan sebagai alat politik yang sadis. Jadinya kita muak dengan itu. Mendengar kata Pancasila apalagi mengucapkan, kita ogah,” ujarnya seraya menerangkan pepatah Arab arrro’yatu ala dini mulkihim (rakyat itu tergantung apa agama / pedoman para pemimpinnya).

Rezim orde baru juga melakukan kedzaliman terhadap etnis keturunan Tionghoa, dan mengakui sendiri perjuangan bangsa sebagai perannya. Orang lain dianggap tidak berjuang, maka hal itu ditiru sekelompok manusia yang kerdil pikiran zaman sekarang.

Sebagian pemeluk agama, apa pun agamanya, meniru pola orde baru dalam menyikapi agamanya. Seseorang yang baru mengerti agama selevel SD atau SMP, merasa sudah tahu agama secara sempurna. Lalu mengangap dirinya benar dan orang lain salah semua. Akibatnya, berani mengkafirkan orang lain, dan kemudian menumpahkan darah saudaranya.

“Beragama itu ada tingkatannya. Ibarat sekolah, mulai TK sampai perguruan tinggi. Masalahnya, ada yang baru setingkat SD atau SMP sudah merasa paling tahu agama. Lalu menyalahkan orang lain di luar diri atau kelompoknya,” tandas Wakil Rais Aam PBNU itu. [nu-online]