Tag

, , , , , , , , , , , ,

membuka pintu langit - momentum introspeksiMoral dan etika masyarakat tampaknya menjadi hal penting yang perlu mendapat perhatian. Berbagai kasus kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini, mengindikasikan bahwa negara kita terjangkit penyakit degradasi moral. Banyak media menyoroti kasus-kasus kekerasan yang terus saja terjadi. Sebut saja kasus Mesuji, kasus Bima, kasus freepot, dan masih banyak lagi kasus tidak kekerasan yang lainnya. Baik yang dilakukan oleh warga masyarakat mau pun oleh aparat keamanan, yang dengan gegabahnya memakai alat negara untuk menyiksa dan menembak rakyatnya sendiri.

Terlepas dari sudut pandang hukum, ternyata ‘masyarakat atas’ seakan dengan seenaknya menerapkan kebijakan yang menimbulkan keresahan di kalangan ‘masyarakat bawah’ sehingga muncul protes dari pihak yang merasa dirugikan. Namun bukan hati nurani yang dikedepankan. Sebaliknya kekuatan ditunjukkan disana. Akibatnya bentrok tidak dapat dihindarkan. Masyarakat bawah mudah sekali marah. Begitu pula masyarakat atas telah mengabaikan peran mereka yang seharusnya mengayomi masyarkat yang di bawahnya.

Bukan hanya hal-hal itu saja. Di negeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini ternyata umat beragamanya masih dengan mudah mencela, bahkan berbuat anarkis terhadap orang atau kelompok agama lain yang berbeda. Tidak berhenti sampai disitu, kekerasan antar kelompok dalam satu agama pun kerap terjadi di negeri ini. Seperti kasus kekerasan terhadap penganut Ahmadiyah yang terjadi berulang-ulang. Dan yang terkini yaitu kasus penyerangan terhadap penganut Syiah di Sampang Madura.

Hanya karena beda interpretasi terhadap suatu pemahaman keagamaan, bukannya pendekatan dialog cerdas yang digunakan, namun lagi-lagi kekerasan yang ditempuh. Kekerasan seakan-akan dianggap menjadi cara untuk menegakkan kebenaran. Mereka menggunakan bahasa kasar, mencela orang lain, menggunakan cara yang tidak sesuai dengan norma dan moral untuk menyampaikan suatu. kema’rufan, kebaikan, dan kebenaran -menurut pandangan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa suatu kebaikan hendaknya disampaikan dengan baik, bukan dengan cara-cara yang melanggar moral dan etika. Masih banyak sisi lain dalam kehidupan masyarakat di bangsa ini yang mengabaikan moral dan etika.

Buku yang ditulis oleh Gus Mus, panggilan akrab KHA. Mustofa Bisri, ini menyoroti berbagai hal. Terutama yang berkaitan dengan moralitas masyarakat. Baik itu masyarakat yang duduk di kursi kekuasaan (pemerintah), wakil rakyat, politikus, pengusaha, umat beragama, bahkan rakyat biasa. Dengan gaya bahasa yang lugas dan sederhana, dalam buku yang terdiri dari beberapa sub judul ini, penulis menuangkan keperihatinan akan perilaku segenap elemen masyarakat yang mengindikasikan degradasi moral yang kerap dilupakan oleh kebanyakan orang. Sekaligus memberikan pencerahan dan membeningkan hati kita.

Seperti yang diungkapkan di halaman 102: Begitu fanatiknya terhadap kepentingan diri sendiri atau paling banter kelompoknya sendiri, sampai-sampai tega merugikan kepentingan pihak lain, bahkan kepentingan bersama. Malah ada yang berani dengan enteng menggunakan firman Tuhan untuk mendukung kepentingannya itu.

Di halaman 17: Lihatlah mereka yang berebut mencium hajar aswad. Apakah sebenarnya yang mendorong mereka begitu semangat? Apakah mereka ingin mencari ridla Allah, atau untuk menyenangkan diri sendiri? Kalau untuk mencari ridla Allah, mengapa tega menyikut hamba-hambaNya yang lain, yang notabene saudara mereka sendiri?.

Di halaman 81: Di rumah keluarga bertikai, bahkan ada yang saling bantai. Di jalan anak-anak sekolah atau para demonstran serta aparat bertengkar dan tawuran.

Semoga kita belum lupa akan pemberitaan tentang beberapa politikus Senayan yang melakukan hal yang tidak beretika dan bermoral, seperti ketika sidang resmi berkata dengan perkataan kotor dan saling pukul, bahkan ada yang nonton film porno. Tindakan mereka tersebut tidak jauh berbeda dengan tindakan sebagian rakyatnya. Dalam bukunya halaman 82 Gus Mus menulis : “untunglah” wakil-wakil rakyat kita begitu jeli melihat “aspirasi” rakyat yang mereka wakili, dan begitu profesional dalam menyalurkan bahkan amarah rakyat.

Latar belakang penulis yang seorang kiai, budayawan dan cendekiawan muslim, meneguhkan kepiawaian penulis dan keunikan isi buku ini. Buku ini memandang persoalan dari berbagai sudut pandang, setidaknya sudut pandang yang sesuai dengan latar belakang penulis tersebut.

Di beberapa bagian buku ini, penulis mencantumkan pesan-pesan agama untuk menguraikan masalah yang penulis kutip dari Al Quran, Al Hadith, atsar sahabat, bahkan hikmah-hikmah ulama yang tertuang dalam kitab-kitab religius yang jarang dikaji orang.

Di bagian salah satu sub judul, penulis mengulas tentang pemimpin yang rendah hati, dengan mengutip sebagian isi kitab Nihayat Al Arab karya Syeikh Ahmad Ibn Abdul Wahab An Nuwaery yang menceritakan akhlak Rasulullah Saw. ketika tangan beliau dicium oleh seseorang lantas beliau menolak. (halaman 8).

Penulis juga mencantumkan unsur kebudayaan dengan menukil nama-nama punakawan, tokoh-tokoh dalam cerita dongeng Jawa yang hampir selalu ada di sekeliling raja untuk menyoroti keberadaan orang-orang di sekitar Presiden Gus Dur pada waktu itu, yang disindir penulis dengan pertanyaan apakah di antara mereka ada juga punakawan yang arif dan ikhlas seperti Semar? (halaman 124).

Di bagian lain penulis mengutip analogi yang pernah dilontarkan mendiang WS Rendra saat penulis menyoroti bangsa Indonesia ini yang mudah marah. Jangan main-main dengan bangsa Indonesia yang menurut Rendra sudah seperti rumput kering yang mudah terbakar ini. Jangankan pulau diserobot, gara-gara sepuluh ribu rupiah saja, orang Indonesia bisa membunuh mertua atau kakeknya sendiri.(halaman 81-82).

Buku ini memberikan kita wawasan, pembelajaran, pencerahan, dan mengajak kita untuk menengok moral serta perilaku masing-masing. Ia mengajak diri kita untuk muhasabah (mengevaluasi) perilaku kita dalam hubungannya dengan antar sesama, lingkungan maupun dengan Tuhan. [nu-online]

Judul buku: Membuka Pintu Langit
Penulis: KH. A. Mustofa Bisri
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Cetakan: Pertama, Agustus 2011
Tebal halaman: viii + 216
Peresensi: Yayan Rubiyanto, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dan Santri Ma’had Aly PP. Al Munawwir Krapyak Yogyakarta